PT PIM Gelar Pertemuan Industri Kawasan Ekonomi Khusus

ACEH UTARA  : 10 NOVEMBER 2016

PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) mengelar pertemuan rapat koordinasi dan kunjungan lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe, bersama Direktur Pengembangan Wilayah Industri II Kementreian Perindustrian dengan perusahaan Konsorsium di Ruang Keupula PT PIM, Krueng Geukueh, Aceh Utara, Kamis (10/11).

Rapat KEK Lhokseumawe tersebut turut dihadiri Direksi Produksi, Teknik dan Pengembangan, Dwi Satriyo Annurogo, Direksi Pengembangan Wilayah Industri II Kementerian Perindustrian, Busharmaidi, Kadis Perindag Aceh, Arifin, perwakilan PT Pertamina, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT Pelindo 1, PT Perta Arun Gas (PAG), PT Kertas Kraft Aceh (KKA), dan PT Humpus Aromatik Aceh.

Dalam sambutan Direksi Produksi, Teknik dan Pengembangan PT PIM, Dwi Satriyo Annurogo mengatakan pengembangan dari sosialisasi dimana kami mengoperasikan lagi dua pabrik, sebelumnya kami mengoperasikan satu pabrik.

"PT PIM mempunyai fasilitas dua pabrik yaitu urea dan amonia. Karena terpencet gas bagi PIM saat menghidupkan pabrik," ujar Direksi Prodtekbang Dwi Satriyo.

Sebelumnya pada tanggal 07 November 2016 pihaknya sudah melakukan penandatangan notaris nota kesepahaman dengan PT Pertamina, untuk penyediaan gas, dan juga produksi statipitas produksi.

Selain dari menghidupkan dua pabrik, PT PIM dengan dukungan PT Pupuk Indonesia (PI) tentunya ini mempunyai rencana berikutnya untuk membangun pabrik NPK,  Asam Sofat dan Asam Solfat.

Sementara itu dari Kadis Perindag Aceh Arifin, menjelaskan proposal usulan sudah kita sampaikan ke ke dewan KEK Nasional pada tanggal 12 Oktober 2016. Penyerahaan 12 dokumen usulan KEK Lhokseumawe kepada Sekretariat Dewan KEK Nasional di Jakarta oleh tim penyusun kawasan khusus industri Arun-Lhokseumawe dan Pemerintah Aceh.

Kemudian pada tanggal 21 hingga 22 Oktober 2016, rapat dengan Dewan KEK Nasional untuk melakukan rapat dengan Dewan KEK Nasional di Jakarta, untuk melakukan rapat koordinasi kerja kesiapan lahan Arun-Lhokseumawe.  rapat koordinasi pemantauan calon investor finimsial.

Ada beberapa hal yang belum selesai, yang pertama yaitu, luas kawasan yang diusulkan pada lahan terakhir berjumlah sekitar 2,410,58 Hektar.

Terdiri dari ex. PT Arun dimana pemilik lahannya Kementerian Keuangan, dalam hal ini lembaga manajemen aset negara, luas lahan 1,664,4 Hektar dan luas lahan kosong ada 540 hektar, status lahan HPL.

PT Humpus Aromatik pemilik lahan PT Pertamina, dimana luas lahan yang terpakai 70 hektar dan luas lahan kosong 40 hektar, status lahan bangunan murni.

PT Pelindo I pemilik lahan PT Pelindo I, luas lahan sekitar 38,18 hektar dan status lahan HPL.

PT AAF pemilik lahan PT AAF, luas lahannya 121 hektar, luas lahan kosong 92 hektar, dan status lahan HGP murni.

PT KKA luas lahan yang diusulkan 209 hektar, sehingga jumlah total 2,410,58 hektar.

Mengenai tentang progres-progres usulan KEK bahwa konsep pengelolaan yang dipersiapkan oleh Pemerintah, mengacu pada konsep pengelolaan BUMN yang sudah bekerja di kawasan industri strategis nasional ini.

Terutama diharapkan PT Pertamina, PT PIM, PT Pelindo dan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah). Terhadpa konsep pengelolaan oleh BUMN dan BUMD, kami memohon kepada Bapak Direksi Pengembangan Wilayah Industri II Kementerian Perindustrian dapat menfalidasi, sehingga terhadap pengelolaan ini, tidak menjadi persoalan dikemudian hari.

"Khususnya, terhadap industri gas ini diharapkan PT Pertamina lebih mengambil peran yang lebih dominan, sehingga ketersediaan energi di kawasan ini, untuk masa jangka panjang lebih terjamin sebagai motor penggerak industri-industri yang ada di kawasan Aceh Utara dan Lhokseumawe," pungkas Kadis Perindag Aceh Arifin.

Selesai sesi rapat, kemudian rombongan dilanjutkan Plant Tour, kunjungan lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) diantaranya ke PT PIM, PT AAF, PT Pelindo I, PT PAG dan PT Humpus Aromatik Aceh. []