KUNJUNGAN KERJA BPPT-JAKARTA KE PT PUPUK ISKANDAR MUDA DALAM RANGKA PENGEMBANGAN PUPUK BIOORGANIK (HAYATI)

Aceh Utrara : 19 April 2016

Bertempat di kantor pusat PT Pupuk Iskandar Muda – Lhokseumawe, pada tanggal 7 April 2016 telah dilakukan pertemuan antara PT PIM dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)  Serpong – Jakarta. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Direktur Produksi, Teknik & Pengembangan Bapak Dwi Satriyo Annurogo, didampingi staf dari Kelompok Proyek & Pengembangan, Departemen Penjualan serta GP3K, sedangkan dari BPPT hadir Direktur Pusat Teknologi Bioindustri Bapak Edi Wahjono beserta jajarannya.

Kerjasama antara PIM dan BPPT saat ini yaitu dalam hal produksi pupuk bioorganik (pupuk hayati) dimana BPPT yang berperan sebagai pengkaji teknologi dan memproduksi pupuk bioorganik, sedangkan PIM melakukan uji aplikasi dan sosialisasi pupuk Bioorganik pada tanaman padi yang dilaksanakan di beberapa wilayah pemasaran PIM. Progress kegiatan ini sudah sampai pada tahap uji mutu dan uji efektivitas yang dilakukan oleh pihak independen, dalam hal ini dari balai Penelitian Tanah-Bogor.

Dalam kunjungan kerjanya kali ini ada beberapa hal yang menjadi perhatian, antara lain:

1.    Paparan Konsorsium Riset SINas Pupuk Hayati 2017

Untuk mendukung dan mengawal pemgembangan produk pupuk hayati kerjasama PT PIM dan BPPT maka Pusat Teknologi Bioindustri berinisiatif mengajukan proposal kegiatan SINas Konsorsium Pupuk Hayati 2017 ke Kemenristekdikti. Kegiatan ini akan melibatkan 3 lembaga yang disingkat dengan “ABG” yang terdiri dari Academik (pihak perguruan tinggi dalam hal ini Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh), Business (PT Pupuk Iskandar Muda) dan Government (Pemerintahan, dalam hal ini BPPT) yang masing-masing memiliki peran strategis dan tanggung jawab yang berbeda tapi saling mendukung untuk mewujudkan unit produksi pupuk hayati skala komersil. Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan berlangsung selama periode 2017-2019.

Adapun produk-produk yang rencananya akan dihasilkan dan dikomersialisasikan antara lain Bioorganik (2017), Biopeat (2018) dan produk zat pengatur tumbuh BioALA-asam amino levulenat (2019).

2.    Paparan kronologis , hasil capaian dan rencana tindak lanjut

Kerjasama PT PIM dan BPPT berlandaskan atas Nota Kesepakatan Bersama (MoU) tahun 2010 dan Perjanjian Kerjasama (PKS) tahun 2014, dan masa berlakunya sudah berakhir, maka dipandang perlu untuk melakukan perpanjangan Dokumen kerja tersebut.

Pada dasarnya produk Bioorganik produksi BPPT ini sudah beberapa kali diujicobakan melalui Demontrasi Plot (Demplot) di beberapa wilayah pemasaran PIM di kawasan Propinsi Aceh, diantaranya Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bireun, Kabupaten Pidie Jaya, dan Kabupaten Aceh Besar yang mana menunjukkan peningkatan hasil yang signifikan rata-rata sekutar 2-3 Ton/ha (data berdasarkan sampel ubinan). Sehingga peningkatan hasil ini perlu didukung oleh upaya edukasi, sosialisasi produk dan penetrasi pasar dalam rangka target komersialisasi produk.

Langkah untuk menuju komersialisasi ini disyaratkan untuk mendapatkan izin edar dari Dinas Pertanian yang harus memenuhi stadar uji mutu dan uji efektivitas. Sampai saat ini masih ditemukan kendala dalam memenuhi standar Permentan No. 70/Permentan/SR.140/10/2011) yaitu nilai pH dan Aktivitas pelarut P dan Aktivitas perombak bahan organik masih dibawah standar. Hal ini disebabkan matrik yang digunakan adalah arang aktif yang menyebabkan pH produk menjadi tinggi (tidak memenuhi standar) sehingga akan dicarikan solusi matrik lainnya yang memenuhi kriteria Permentan. Namun, BPPT berkomitmen untuk segera menuntaskan permasalahan tersebut pada tahun 2016 ini. Selain itu, masukan dari para petani dan PPL yang telah melakukan sosialisasi pupuk Bioorganik selama ini menyatakan agar produk lebih mudah diaplikasikan, seperti pada perlakuan aplikasi kedua (root deeping – perendaman akar benih selama ± 30 - 45 menit) karena sangat lama dan membuat para tukang tanam membuang-buang waktu. Disarankan juga agar produk diberi warna (bukan hitam) untuk menarik perhatian para konsumen.

3.    Paparan Business Plan unit Produksi Hayati

BPPT juga memaparkan tentang business plan untuk produk Bioorganik dengan kapasitas 3.000 ton/tahun, dengan menyampaikan Flow Process Diagram produksi Bioorganik yang akan menjadi acuan bagi perhitungan analisa ekonominya. Beberapa parameter analisa keekonomian yang menjadi dasar pertimbangan kelayakan untuk mendirikan pabrik diantaranya BEP (41,67%), POT (2,94 tahun) dan ROI (24,01%) serta biaya investasi alat (±18 Miliar) dan total biaya investasi (±34 Miliar) telah dipaparkan. Namun demikian analisa tersebut perlu dikaji lebih lanjut berdasarkan kapasitas dan aspek teknis terkait lainnya yang disepakati oleh Kedua Pihak. Dan PIM menyarankan juga untuk menganalisa grafik sensitifitas dan upaya untuk meminimalisasi risiko kegagalan selama proses produksi biomassa berlangsung.

Selain melakukan pertemuan dengan pihak Manajemen PIM, BPPT juga berkesempatan untuk mengunjungi salah satu lokasi demplot ujicoba aplikasi pupuk Bioorganik yang berlokasi di Ds. Pulo Lawang Kec Jeumpa Kab Bireun untuk melihat secara langsung progress pertumbuhan tanaman padi terhadap pupuk Bioorganik yang diberikan dengan dosis 5 kg/hektar.

Dengan adanya beberapa proyek kerjasama dengan BPPT ini diharapkan PT PIM memproduksi produk-produk diversifikasi baru yang dapat membuat perusahaan tetap sustain dan bersaing dengan perusahaan pupuk lainnya maupun dengan kompetitor-kompetitornya lainnya baik di dalam maupun di luar negeri.