Fasilitas Gas Arun dan Belawan Diputuskan

Butuh pasokan gas dalam jumlah besar.

KORAN TEMPO :: 09 Maret 2012

JAKARTA - Pemerintah memutuskan melakukan sinkronisasi fasilitas gas Arun di Aceh dan Belawan, Sumatera Utara. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mengatakan keputusan itu diambil kemarin dengan melibatkan PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT PLN, dan PT Kereta Api Indonesia.

Pasokan gas dari hasil regasifikasi LNG Arun akan disalurkan melalui pipa yang dibangun PT Pertamina dari Arun ke Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Sedangkan distribusi gas dari Pangkalan Brandan ke Belawan menggunakan jaringan pipa yang sudah dibangun. Menurut Dahlan, Pertamina menargetkan jaringan pipa tersebut selesai dibangun dalam 18 bulan. 

Pipa akan ditanam bersisian dengan jaringan rel PT KAI di Sumatera. "Dengan begitu, perizinannya lebih mudah," ujar Dahlan.
Adapun fasilitas gas terapung (FSRU) milik PGN di Belawan akan dialihkan ke Lampung, Sumatera Selatan. Tujuannya, memasok kebutuhan gas di pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) Cilegon, Banten, dan Muara Tawar, Bekasi.

Jalan ini diambil karena PLN tak bisa menjadi off-taker bagi gas PGN dan Pertamina jika fasilitas gas terapung PGN tetap berada di Belawan. Sebagai gantinya, PLN menyarankan pengalihan pasokan gas ke PLTGU Cilegon dan Muara Tawar.

Dahlan mengatakan biaya investasi US$ 11 juta yang sudah dikeluarkan PGN untuk fasilitas gas terapung Belawan akan ditanggung dalam proyek pipa Pertamina. "Wajarnya memang seperti itu," ujarnya. Namun Pertamina mengajukan syarat agar anggaran PGN diaudit dan telah melalui studi kelayakan.

Ia optimistis proyek ini akan memperlancar pasokan gas di Sumatera Utara dan Jawa. Kesepakatan tersebut diambil dalam tempo dua minggu. "Regasifikasi Arun diputuskan pekan lalu, sementara Belawan barn tadi pagi karena perlu survei," ujarnya.

Untuk mengubah kilang LNG ke fasilitas penerimaan, Pertamina membangun fasilitas penerima gas alam cair di darat berkapasitas 2,2 juta metrik ton per tahun. Sedangkan terminal terapung regasifikasi (FSRU) Belawan mempunyai kapasitas 2,5 juta metrik ton.

Selama beberapa tahun PGN dan Pertamina gencar meyakinkan pemerintah memilih penampungan gas terapung milik mereka agar beroperasi lebih dulu untuk wilayah Sumatera. Vice President Corporate Communication Pertamina, Mochammad Harun, memaparkan bahwa membangun FSRU di Arun jauh lebih murah investasinya karena tinggal proses revitalisasi kilang LNG saja.

"Paling ekonomis untuk menghidupkan industri di Aceh," katanya kemarin. Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Widjajono Partowidagdo mengingatkan bahwa sinkronisasi gas Arun di Aceh dan Belawan, Sumatera Utara, membutuhkan pasokan gas dalam jumlah besar. Jika jatah ekspor gas ke Sempra Energy, Amerika Serikat, tidak jadi dilakukan, negara akan memiliki pasokan gas yang mencukupi. "Kami berharap gas tidak jadi dijual ke Amerika Serikat," katanya.

Indonesia memiliki komitmen ekspor gas ke Sempra sebanyak 3,7 juta ton per tahun. Gas untuk Sempra berasal dari pasokan gas alam cair (liquefied natural gas) yang diproduksi di Lapangan Tangguh, Papua.
• ANGGRITA DESYANI/GUSTHIDA BUDIARTE/SUTJI DECILYA