Receiving terminal hidupkan kembali industri di Aceh

Jakarta: Setelah bertahun-tahun berkutat dengan masalah gas, PT Pupuk IskandarMuda kini bersiap menghadapi babak baru menyusul diperolehnya jaminan pasokan gas untuk jangka panjang. Apa rencana PIM setelah gasnya tercukupi? Guna mengetahui lebih jauh mengenai hal itu, Bisnis mewawancarai Direktur Utama PT PIM Mashudianto. Berikut petikannya.

Bisa dijelaskan usaha yang dilakukan PIM selama ini untuk bertahan hidup?

Pabrik PIM mulai menghadapi masalah kelangkaan gas setelah kontrak gas dengan Exxon yang berumur 20 tahun selesai pada 2003. Pabrik PIM-2 yang sudah direncanakan jauh-jauh hari pembangunannya sempat terkatung- katung karena berbagai masalah, mulai dari tidak mendapat GSA (gas supply agreement) hingga mengakibatkan bank tidak dapat mengucurkan pembiayaan, sampai masalah gangguan keamanan saat terjadi konflik bersenjata.
Namun, akhirnya berbagai masalah tersebut dapat teratasi dan proyek PIM-2 selesai pada 2005. Tetapi, saat itu PIM-2 hanya mendapatkan gas sebanyak 1 kargo untuk start up. Setelah gasnya habis, praktis pabrik PIM-2 langsung berhenti beroperasi. Dari 2006 sampai 2008, PIM berupaya mencukupi gas dari swap Pupuk Kaltim. Setiap tahun tiga kargo. Dengan pasokan itu, hanya satu unit pabrik yang beroperasi selama 6 bulan dalam setahun.
Pada 2009 dan 2010, PIM memperoleh gas dari Exxon dan Total, selama itu 1 unit pabrik dapat beroperasi penuh untuk waktu setahun.

Kontrak pasokan gas antara PIM dan Medco sudah ditandatangani. Komentar Anda?

Saya kira babak baru bagi PIM dimulai setelah Medco mendapatkan izin perpanjangan kontrak di Blok A untuk 20 tahun. Dengan disepakatinya pasokan gas dari Medco ke PIM, Medco akan memasok gas ke PIM sebanyak 120 mmscfd dari 2013 hingga 2018.

Dengan begitu, pabrik PIM-1 dan PIM-2 dapat beroperasi penuh. Medco sendiri saya kira juga cukup happy dengan kontrak ini karena kami membeli dengan harga yang bagus, yaitu US$6,5 per mmbtu. Untuk 2 tahun ke depan, PIM berhasil mendapatkan gas dari sisa ekspor kilang di Kaltim, yaitu gas yang tidak jadi dibeli negara buyer. Untuk 2011 kami memperoleh kontrak gas sebanyak 10 kargo dan pada 2012 sebanyak 12 kargo. Dengan pasokan itu, kedua unit pabrik mulai dapat beroperasi penuh.

Berarti masalah gas sudah dapat diatasi untuk jangka panjang?

Saya harap begitu. Akan tetapi, pasokan gas dari Blok A dari 2018 sampai 2022 sudah turun menjadi 60 mmscfd. Saya yakin upaya eksplorasi sumber gas baru juga terus dilakukan. Tetapi, parallel dengan itu, kami berharap pembangunan receiving terminal dapat direalisasikan. Kajian untuk pengoperasian receiving terminal sudah dilakukan, hasilnya feasible. Fasilitas ini dapat dioperasikan dengan memanfaatkan infrastruktur di kilang Arun yang sudah tidak beroperasi lagi pada 2014.

Dengan receiving terminal, pasokan gas dapat dipenuhi dengan membeli LNG dari sumber mana saja. LNG tersebut nantinya diregasifikasi sehingga bentuknya kembali menjadi gas yang dapat dimanfaatkan untuk memasok kebutuhan bahan baku PIM. Investasi untuk penyiapan receiving terminal membutuhkan dana US$80 juta. Ini untuk proses regasifikasi. Dari desain yang sudah dilakukan, akan disiapkan dua tangki receiving terminal. Satu Tangki memiliki kapasitas setara dengan satu kargo gas. Kalau fasilitas ini bisa direalisasikan, pasokan gas akan dapat diamankan untuk waktu yang panjang. Operatornya bisa Pertamina atau dengan membentuk perusahaan konsorsium baru.

Apakah receiving terminal dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali industri petrokimia di Lhokseumawe?

Saya optimistis begitu. Ini adalah babak baru untuk menghidupkan industri petrokimia di Aceh. Tidak cuma PIM, Pabrik pupuk Asean Aceh Fertilizer yang juga berhenti beroperasi karena kelangkaan gas akan dapat kembali memperoleh pasokan bahan baku. Gasnya bahkan juga dapat dipakai untuk mencukupi kebutuhan pembangkit listrik untuk wilayah Aceh Timur. Dengan adanya pasokan gas, Berbagai industri di Aceh mulai dari PIM, AAF, Kertas Kraft Aceh, PLN, hingga Indonesia Power Plant akan dapat beroperasi secara normal. Ini artinya industri di Aceh akan dapat kembali dihidupkan.

Pewawancara: Tri D. Pamenan