Januari 2018, PAG Suplai Gas ke PIM

SERAMBI INDONESIA : 31 DESEMBER 2017

LHOKSEUMAWE - Perta Arun Gas (PAG) Lhokseumawe akan menyuplai gas murni ke PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) pada akhir Januari mendatang. Hal itu dilakukan PAG menyusul tersedia kembali Methyldiethanolamine (MDEA) yang merupakan bahan baku permunian gas. Selama ini, PAG tak bisa menyuplai gas karena stok bahan baku tersebut sudah habis terpakai.

Demikian antara lain disampaikan Direktur Teknik dan Operasi PAG, Budiyana dalam pertemuan dengan tim DPD RI di Guest House PAG, Sabtu (30/12) sore. Dari DPD, pertemuan itu dihadiri Ketua Komite II, Parlindungan Purba dan anggota asal Aceh, Sudirman alias Haji Uma. Turut hadir Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, perwakilan PT PIM, SKK Migas, PHE, BPH Migas, dan PGN.

Untuk diketahui, operasional PT PIM terhenti sejak November lalu karena PAG tak menyuplai gas sesuai kebutuhan. Untuk satu pabrik, PIM butuh gas mencapai 55 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) atau Juta Standar Kaki Kubik per hari. Sedangkan yang disuplai PAG selama ini hanya 10 MMSCFD.

“Kita sudah meminjam MDEA dari berbagai perusahaan yang ada di Indonesia dan sudah terkumpul 31 ton. Karena itu, pada akhir Januari mendatang kita sudah dapat suplai kembali gas murni ke PIM,” kata Budiyana, kepada Serambi seusai pertemuan itu.

Sebelum stok MDEA habis pada November lalu, menurut Budiyana, pihaknya sudah memesan ke India. Tapi, terkendala karena izinnya harus diketahui mentri. Akibatnya, pesanan tak dapat diterima sesuai target. “Sebelumnya kita sudah beberapa kali membahas masalah ini dengan PIM,” ujarnya.

Sementara Parlindungan Purba dalam pertemuan itu meminta PAG dan PIM membahas soal penyedian gas ke depan. Sehingga kasus serupa tak terulang lagi nanti. Harapan hampir sama juga disampaikan Haji Uma.

“Saya berharap pasokan gas ke PIM dapat diprioritaskan. Tujuannya, agar produksi pupuk untuk petani di Aceh dan provinsi lain tak terkendala. Kita berharap masalah ini tak terulangi lagi,” katanya.

Direktur SDM dan Umum PT PIM, Usni Syafrizal kepada Serambi, menyebutkan, jika pabrik sering shutdown dan kemudian dioperasikan kembali akan mudah rusak alatnya. Selain itu, saat pabrik dihidupkan kembali, gas harus dibuang itu cukup banyak dan kalau dihargakan mencapai Rp 5 miliar. “Hal ini pernah terjadi pada 2002. Saat itu, seringkali pabrik terhenti operasionalnya,” ungkap Usni.

Sekarang, tambahnya, dua pabrik PT PIM juga masih terhenti operasional karena tak ada gas. Di sisi lain, sebut Usni, PIM harus memenuhi kebutuhan pupuk untuk petani di Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Kepulaun Riau, dan Sumatera Barat. “Karena itu, kita harus meminjam pupuk dari pabrik lain,” pungkas Usni.

 

http://aceh.tribunnews.com/2017/12/31/januari-2018-pag-suplai-gas-ke-pim