Operasional PIM Terhenti

SERAMBI INDONESIA : 23 NOVEMBER 2017

* Ekses tak Ada Pasokan Gas

Operasional pabrik urea dan pabrik amoniak PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang berada di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara sudah sepekan lebih terhenti karena tak ada pasokan gas dari PT Perta Arun Gas (PAG). Jumlah pasokan gas yang ada sekarang hanya cukup untuk operasional turbin saja guna memenuhi kebutuhan listrik di kantor dan pabrik.

Terhentinya proses produksi PT PIM tersebut bukan yang pertama kali terjadi. Informasi yang diperoleh Serambi, kejadian serupa juga pernah terjadi pada tahun 2001. Saat itu, operasional PIM terhenti selama enam bulan, juga karena tak ada pasokan gas.

General Manager (GM) Produksi PT PIM, Yolanda kepada Serambi, kemarin, menyebutkan, pasokan gas yang masuk melalui PAG ke PIM selama sepekan terakhir sebanyak 10 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) atau 10 Juta Standar Kaki Kubik per Hari. Padahal yang dibutuhkan PIM tiap harinya mencapai 55 MMSCFD. “Jumlah tersebut (10 MMSCFD) hanya mampu menggerakkan turbin untuk kebutuhan listrik di PIM. Sedangkan untuk pabrik urea dan amoniak tidak mencukupi, sehingga produksi urea dan amoniak terhenti,” kata Yolanda.

Karena untuk memproduksi amoniak, jelasnya, kebutuhan gas sangat penting karena itu merupakan bahan bakunya, begitu juga dengan produksi urea selain membutuhkan amoniak juga membutuhkan gas. “Kontrak kami memang dengan Pertamina Hulu Energi (PHE). Tapi yang menyuplai ke kami adalah PAG setelah dilakukan permurnian,” jelas GM Produksi PIM.

Ditambahkan, ekses terhentinya pabrik urea dan amoniak, pihaknya juga tak bisa memproduksi urea bersubsidi dan nonsubsidi untuk kebutuhan petani di Aceh. Kondisi ini tentu sangat mengakhawatirkan. Sebab, sekarang ini sejumlah derah mulai memasuki musim turun ke sawah yang secara otomatis kebutuhan pupuk urea meningkat drastis.

PIM sendiri, terang Yolanda, pada Desember 2017 harus menyediakan pupuk bersubsidi kepada petani dalam jumlah yang banyak untuk memenuhi kebutuhan masa tanam. Dia menerangkan, pihaknya sudah menyampaikan persoalan tersebut kepada Pertamina untuk dapat segera dicari solusi, sehingga operasional pabrik tersebut tak terhenti lagi. “Karena operasionalnya sudah terhenti, maka kami memanfaatkannya untuk perbaikan kecil di kedua pabrik itu, sehingga karyawan tetap bisa bekerja,” tukas Yolanda.

Sementara itu, Field HR dan General Support Superintendent PHE NSB dan PHE NSO, Armia Ramli kepada Serambi, kemarin, menegaskan, produksi gas yang berada North Sumatra Offshore (NSO) dan Arun Cluster masih normal seperti biasanya. “Begitu juga dengan pasokan ke PAG juga masih normal, jadi tidak ada kendala di PHE,” jelasnya.

Vice Production PT Perta Arun Gas (PAG), Tarmizi kepada Serambi,kemarin, menjelaskan, pasokan gas ke PT PIM memang terkendala karena stok bahan pemurnian gas sudah habis, sehingga gas yang sudah masuk dari PHE belum dapat dimurnikan. “Kita sudah pesan ke India, tapi terkendala dalam proses pengiriman, sehingga tak bisa masuk di pekan pertama November,” ujar Tarmizi.

Dia menyebutkan, jumlah gas yang dikirim ke PIM sekarang mencapai 38 MMSCFD. “Dengan jumlah itu, kalau untuk memproduksi pupuk sudah mencukupi, tapi memang kalau dihitung gas segitu tidak ekonomis. Jadi barangkali PIM menunggu stoknya normal kembali,” ulasnya.

Selain di India, terang Tarmizi, PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) juga sudah memberikan komitmen untuk menyediakan chemical 40 ton. Selain itu, pihaknya sudah mendapatkan barang tersebut di Singapora,Surabaya, dan juga di PT Rekaya Industri (Rekind).

“Jadi memang sekarang kita mengumpulkan ketengan dari berbagai tempat, karena jumlah yang kita butuhkan mencapai 120 ton untuk setahun. Di PIM juga ada 20 ton, tapi setelah diteliti tak bisa digunakan,” tandas Tarmizi seraya menginformasikan kalau dalam waktu dekat ini pihaknya akan mengadakan rapat dengan PIM dan PHE untuk membahas persoalan tersebut.

 

http://aceh.tribunnews.com/2017/11/23/operasional-pim-terhenti