Harga Gas Tinggi, Daya Saing Industri Merosot

Bisnis.com : 18 Oktober 2017

JAKARTA - Daya saing industri lokal menurun jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara lain karena harga gas yang tidak kompetitif.

Tingginya harga gas mendongkrak ongkos produksi yang berujung pada berkurangnya potensi produk dalam negeri untuk masuk ke pasar yang lebih luas.

Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Achmad Safiun mengatakan produk nasional memiliki potensi yang kuat untuk merajai pasar Asia Tenggara apabila harganya lebih kompetitif. Potensi ini dapat dilihat dari kemampuan produsen lokal dalam menghasilkan produk berkualitas dengan volume lebih banyak.

Sayangnya, kesempatan itu terganjal oleh harga gas yang masih tinggi. Sebelumnya, Kementerian Perindustrian telah merekomendasikan sebanyak lima sektor industri yang terdiri dari 86 perusahaan untuk mendapat prioritas penurunan harga gas, yaitu industri pupuk, petrokimia, baja, kaca, dan keramik.

Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 40 Tahun 2016 tentang Harga Gas Bumi untuk Industri Tertentu, dari 86 perusahaan tersebut, baru delapan perusahaan dari tiga sektor yang telah menikmati penurunan harga gas, yaitu dari sektor pupuk, petrokimia, dan baja. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Kaltim Parna Industri, PT Kaltim Methanol Industri, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Petrokimia Gresik, dan PT Krakatau Steel Tbk.

Achmad berharap pengembangan infrastruktur jaringan pipa gas Duri—Dumai, Dumai—KEK Sei Mangke, dan Cirebon—Semarang dapat mendorong pemerataan harga gas.

 

http://industri.bisnis.com/read/20171018/257/700470/harga-gas-tinggi-daya-saing-industri-merosot