Perketat Pengawasan Pupuk Bersubsidi

Serambi Indonesia : 17 Oktober 2017

* KP3 Aceh Utara Diminta Cek dari Hulu ke Hilir

Aceh Utara - Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Aceh Utara diminta memperketat pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi, terutama mulai dari distributor hingga sampai ke pedagang pengecer. Pasalnya, persoalan kelangkaan pupuk selama ini di Aceh Utara diduga bukan hanya karena kuota terbatas, tapi diperparah dengan adanya penyelewengan pupuk.

“Pengawasan memang harus dimulai dari hulu di tingkat produksi sampai ke hilir yaitu tingkat pedagang pengecer. Tapi informasi dan penelusuran saya selama ini, rawan terjadi penyelewengan pupuk di tingkat distributor dan pengecer. Karena itu, pengawasan ke depan harus lebih diperketat,” ujar Dosen Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh (FP Unimal), Dr Ismadi kepada Serambi, Senin (16/10).

Menurutnya, kerawanan terjadinya penyelewengan pupuk bersubsidi dikarenakan harga persak nya hanya Rp 90 ribu untuk urea. Sedangkan nonsubdisi harganya mencapai Rp 250 ribu persak. “Informasi yang kita peroleh, pupuk ini dijual kepada pihak tertentu dengan harga lebih tinggi dari pupuk subsidi. Tapi hal ini sulit dibuktikan, karena itu perlu diawasi,” tukasnya.

Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu optimis, jika KP3 Aceh Utara mengawasi proses distribusi pupuk dengan ketat mulai dari pihak produksi sampai ke pedagang pengecer, diyakini petani tidak akan kesulitan lagi mendapatkan pupuk, meskipun kuotanya terbatas. “Jadi, tim ini harus benar-benar mengawasi jika memang tidak ingin lagi langka pupuk di Aceh Utara,” ucap dia.

Sementara itu, dosen Fakultas Pertanian lainnya, Muhammad Muaz Munauwar MP dalam siaran pers yang diterima Serambi, kemarin, menyebutkan, Bupati Aceh Utara harus segera mencari solusi atas kelangkaan pupuk tersebut. “Ini permasalahan yang serius, bila pemberian pupuk berkurang pada tanaman, dipastikan hasil produksi akan menurun,” ulasnya.

Bahkan, kata Muhammad, jika petani tak mendapatkan pupuk sama sekali, akan terjadi kegagalan panen. “Sebagian besar penduduk Aceh Utara bekerja sebagai petani, bila permasalahan ini terjadi terus menerus, tingkat kemiskinan di Aceh Utara juga akan meningkat. Salah satu solusi yang mungkin dilakukan adalah meminta tambahan kuota pupuk,” pungkasnya.