Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Mendapat Perhatian Serius DPRK Aceh Utara

Sidak News : 20 September 2017

Kelangkaan pupuk bersubsidi setiap musim tanam terus terulang di Kabupaten Aceh Utara. Pupuk urea yang digunakan petani sulit ditemukan di kios pengecer.

Sejumlah petani yang ditemui Media ini sepekan terakhir dibeberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, menyebutkan saat ini di kios pengecer juga tidak tersedia pupuk. “Ini kondisi berulang terus, setiap musim tanam pasti pupuk langka,” keluhnya.

Menyahuti keluhan petani tersebut, DPRK Aceh Utara telah membentuk panitia khusus untuk menelusuri kelangkaan pupuk yang kerap dikeluhkan itu.

Panitia Khusus (Pansus) DPRK Aceh Utara selain menemui instansi terkait dan pihak pihak yang bertanggung jawab terhadap penyaluran pupuk bersubsidi juga sudah menemui manajemen PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) untuk memasikan suplainya apa normal.

Hal ini dijelaskan Tgk Junaidi, Pimpinan Pansus kepada Media ini disela sela acara pertemuan dengan sejumlah camat, Instansi terkait, PPL dan Kelompok Tani di Balai Desa Kecamatan Dewantara, Selasa (19/9) kemarin.

“Kita coba telusuran dulu, penyebab kelangkaan. Apakah quotanya tidak cukup atau memang ada penyebab lain. Dalam pertemuan ini banyak laporan yang diperoleh dan semua laporan akan ditindak lanjuti terutama terhadap pengawasan agar lebih diperketat”,sebutnya.

Legislatif akan menelusuri penyebab kelangkaan tersebut karena sesuai laporan setiap tahunnya pupuk hilang di kios kios pengencer resmi. Dalam hubungan ini pula diperlukan tim khusus untuk mengawasi kemungkinan adanya sindikat kejahatan pupuk bersubsidi tersebut.

Sebelumnya pupuk bersubsidi jenis Urea,NPK dan SP-36 di Aceh Utara, mengalami kelangkaan. Bahkan, kasus hilangnya pupuk yang khusus diberikan untuk membantu petani itu meluas di delapan kecamatan, meliputi Samudera, Muara Batu, Sawang, Dewantara, Kuta Makmur, Banda Baro, Nisam, dan Kecamatan Nisam Antara.

Keterangan lain yang diperoleh Media ini menyebutkan, alokasi pupuk bersubsidi Aceh Utara pada 2017, diantaranya jenis urea berjumlah 8.000 ton, SP-36 2.700 ton, ZA 650 ton, NPK 4.000 ton, dan organik 1.700 ton. Sementara luas areal pertanian mencapai 780 Ha.