Pemerintah Utang Subsidi Pupuk Ke BUMN Rp 19,7 Triliun

Detik : 18 Agustus 2017

Jakarta - Pemerintah mencatat, hingga tahun ini masih memiliki utang subsidi pupuk kepada Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) sebesar Rp 19,7 triliun.

Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Edy Putra Irawady dalam acara diskusi Subsidi Pupuk di Kantornya, Jakarta, Jumat (18/8/2017).

"Sekarang ini beban Rp 19,7 triliun sejak 2014-2017 berjalan, ini sangat membebani APBN," kata Edy.

Dia menyebutkan, utang subsidi pupuk pemerintah pada 2014 sebesar Rp 7,4 triliun, pada 2015 sebesar Rp 7,5 triliun, pada 2016 sebesar Rp 2,9 triliun, sedangkan di tahun 2017 yang masih berjalan ini Rp 1,9 triliun.

"Ini kan masih di APBN 2018 belum tercakup. Saya khawatir ini akan jadi carry over ke utang tahun depan, tambah bunga jadi akan bebani APBN 2018," tambah dia.

Sementara itu, Edy menyebutkan pemerintah menganggarkan subsidi pupuk sebesar Rp 28,5 triliun atau turun dari anggaran di tahun 2017 yang sebesar Rp 31,2 triliun.

Meski demikian, Edy mengatakan, penurunan anggaran subsidi pupuk tidak mempengaruhi tingkat produksi dan produktivitas petani, hingga kesejahteraan petani.

"Subsidi pupuk ini dipertahankan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, dan agar produktivitas meningkat," kata Edy.

Edy menyebutkan, penurunan anggaran subsidi pupuk juga tidak berpengaruh terhadap volume pupuk yang disalurkan, yakni rata-rata 9 juta ton.

Masih adanya subsidi pupuk juga akan meningkatkan kesejahteraan petani lantaran adanya efisiensi biaya produksi kurang lebih 9% dari total. Sehingga, yang harus ditekankan dalam subsidi pupuk ini mengenai ketepatan waktu, jenis, jumlah, dan harga.

"Walaupun terhadap biaya produksi 9%, tetapi berperan meningkatkan kesejahteraan petani," tambah dia.

Dia menjelaskan, subsidi pupuk yang selama ini telah berjalan menjadi salah satu faktor peningkatan produktivitas dan produksi pangan, seperti produksi padi naik 3,31%, jagung 6,49%, dan kedelai 2,97%. Untuk kenaikan produktivitasnya untuk padi naik 1,12%, jagung 3,91% dan kedelai 1,29%.

"Jadi subsidi pupuk untuk meningkatkan kesejahteraan, lalu produktivitas, meningkatkan produksi tani," jelas dia.