Kini Giliran Pupuk Organik Subsidi Langka, PIM Diminta Segera Distribusikan

SuaraTani.com : 19 Juli 2017

Medan| Setelah kelangkaan pupuk subsidi jenis SP-36 dan NPK Phonska, saat ini pupuk organik subsidi yang mengalami kekosongan.

Kekosongan bahan pembenah tanah itu diakui sejumlah distributor dan kios pupuk bersubsidi di sejumlah daerah di Sumut. Seperti yang diungkapkan Tonggo Aritonang, pimpinan CV Sumber Inti Utama, distributor pupuk subsidi PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), kekosongan pupuk organik itu mulai terjadi sejak awal Juli 2017.

“Sekarang ini, kesadaran petani menggunakan pupuk organik mulai meningkat. Petani sudah mengerti manfaat pupuk organik bagi tanah dan tanaman setelah kami melakukan sosialisasi. Karena itulah, permintaan petani ke kios-kios pupuk subsidi sudah banyak. Tetapi pupuk organiknya yang tidak ada,” kata Tonggo kepada wartawan, di Medan, Rabu (19/7/2017).

Tonggo sendiri sudah mengajukan penebusan ke PT PIM, produsen pupuk organik subsidi sebanyak 30 ton, namun hingga sekarang belum ada didistribusikan.

“Kios-kios kami sudah mendesak agar pupuk segera disalurkan. Tapi menurut informasinya dari PIM, pupuk organik lagi kosong,” kata Tonggo yang memiliki wilayah kerja pendistribusian pupuk organik di Kabupaten Simalungun, yakni Kecamatan Jorlang Hataran, Jawa Maraja Bah Jambi, Kecamatan Siantar dan Kecamatan Gunung Malela.

Distributor lainnya di Kabupaten Karo, Tobat Karo-karo juga mengatakan, sistem online yang mereka gunakan selama ini untuk melakukan penebusan ditolak atau tidak bisa masuk karena stok pupuk di gudang PIM yang ada di Kabanjahe kosong.

“Menurut informasi dari orang PIM, mereka akan mengusahakan ke pusat agar pendistribusian bisa segera dilakukan,” kata pimpinan CV Otto Jaya, distributor PIM untuk wilayah Kecamatan Munthe dan Merek, Kabupaten Karo.

Hal yang berbeda disampaikan Distributor CV Bakti Agro Mandiri Ahmad Dahlan Surbakti. Menurut dia, penebusan pupuk organik yang dilakukannya ke PIM sudah mulai lancar. “Saya mengajukan penebusan 100 ton, dan yang sudah terealisasi sekitar 30 ton,” jelasnya.

Sementara itu, Amrin Gurning, pemilik kios pupuk bersubsidi UD Ahmajoro di Desa Ujung Bondar, Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun mengatakan, kekosongon pupuk organik mulai terasa sejak awal Juli lalu.

“Saya minta lima ton tapi yang dikasih distributor hanya satu ton saja. Katanya, pupuk lagi kosong,” kata Amrin.

Alasan serupa disampaikan pemilik kios UD Jaya Abadi, Ananta Ria Pinen di Desa Bunga Baru, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo.

“Sejak dua minggu lalu saya sudah melakukan penebusan ke distributor sebanyak 10 ton pupuk organik sesuai RDKK (rencana defenitif kebutuhan kelompok) tapi sampai sekarang pupuknya belum ada. Padahal saat ini, petani mulai memasuki musim tanam kedua, dan kebutuhan pupuk organik di Karo sangat tinggi,” ucapnya.

Menyahuti hal itu, Kepala Pemasaran PT PIM wilayah Sumut Pendi Effendi Rachmad kepada wartawan di Medan, mengatakan pihaknya akan segera berkordinasi dengan pimpinan di pusat agar segera merealisasikan pupuk organik terutama ke daerah-daerah yang mengalami kekosongan. Apalagi saat ini, musim tanam kedua tahun 2017 yakni Asep (Agustus – September) akan segera dimulai. Dan, petani umumnya memberikan pupuk organik sebelum pertanaman dimulai.

Memang kata Pendi, sejak pengalihan pupuk organik dari PT PIM ke PT Petrokimia Gresik per Juli 2017, sesuai keputusan Pupuk Indonesia, PIM masih dibolehkan untuk mendistribusikan pupuk organik hingga Agustus mendatang sambil menunggu kesiapan dari Petrokimia sendiri.

“Saat ini stok pupuk organik di gudang PIM hanya tersedia berkisar 600 ton lagi. Dan, itu stok yang sangat minim sekali. Begitupun, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini kami bisa mendistribusikan pupuk organik ke petani melalui kios-kios terutama ke daerah yang benar-benar mengalami kekosongan,” ucap Pendi.

Sedangkan Tulus P Sitorus, produsen pupuk organik yang merupakan salah satu mitra PIM mengatakan, stok pupuk organik di pabriknya saat ini dalam konsi melimpah. Ada sekitar 2.000-an ton.

“Untuk stok kita tidak ada masalah, tinggal menunggu instruksi dari PIM saja apakah harus ada lagi adendum kontrak sambil menunggu kontrak baru dari PT Petrokimia, atau bagaimana,” ucap Tulus. *