PKG Ambil Alih Penyaluran Pupuk Organik Bersubsidi

MedanBisnis : 04 Mei 2017

Terhitung per 1 Juli 2017, produksi dan pendistribusian pupuk organik bersubsidi untuk seluruh wilayah kerja PT pupuk Iskandar Muda (PIM) diambil alih oleh PT Petro Kimia Gresik (PKG).

Sebelumnya, produksi dan pendistribusian pupuk organik untuk wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) yang meliputi Sumatera Utara (Sumut), Aceh, Riau dan Sumatera Barat di bawah tanggungjawab PT PIM.

Kebijakan ini menurut Kabag Media Penerbitan dan Dokumentasi PT PKG Widodo Heru Supriyono, merujuk surat PT Pupuk Indonesia (Persero) Nomor U-1331/A00.UM/2016 tanggal 30 Juli 2016 perihal Penanggungjawab Pengadaan dan Panyaluran Pupuk Organik Bersubsidi untuk sektor pertanian.

Dengan ini disampaikan seluruh wilayah pengadaan dan penyaluran pupuk organik bersubsidi yang sebelumnya dilaksanakan oleh PT PIM dialihkan menjadi tanggungjawab PT PKG.

"Ketentuan ini berlaku terhitung tanggal 1 Juli 2017. Dan, apabila masih terdapat sisa stok produsen lainnya yang belum disalurkan sebagai akibat dari perubahan aturan ini, produsen yang mempunyai barang dapat menyalurkan sendiri atau mengalihkan kepada PT Petro Kimia Gresik sesuai dengan ketentuan yang berlaku," kata Widodo kepada MedanBisnis, Kamis (4/5) ketika dihubungi lewat seluler.

Mengenai kemitraan dengan perusahaan lokal yang memproduksi pupuk organik untuk pengadaan pupuk bersubsidi yang selama ini dilibatkan, menurut Widodo tidak ada masalah.

"Para pengusaha pupuk organik yang menjadi mitra PIM dalam memproduksi pupuk organik bersubsidi tepat akan kita maksimalkan atau diberdayakan. Hanya saja, produksi pupuk organik yang dihasilkan nantinya harus mengikuti standart Petro Kimia Gresik," kata Widodo.

Menyikapi pengalihan ini, Direktur PT Surya Nyiur Indah Manahan Sihotang, salah satu produsen pupuk organik yang menjadi mitra PIM mengaku siap mendukung kebijakan perusahaan.

"Kalau itu memang keputusan Holding (Pupuk Indonesia-red) kita mau bagaimana lagi. Itulah yang terbaik. Dan, kita siap menjalankan tugas sebagaimana yang diembankan kepada kami," kata Sihotang.

Sebelumnya, kata Sihotang yang telah terlibat sejak tahun 2008 dalam pengadaan pupuk organik bersubsidi, pupuk organik memang dikelola oleh PT PKG.

Namun, sejak holding pupuk dibentuk jadi PT Pupuk Indonesia tahun 2013, pengelolaan pupuk organik diserahkan kepada anak perusahaan di wilayah. Dan, untuk Sumut dikelola oleh PIM.

"Sekarang diambil alih kembali oleh Petro Kimia Gresik, kita tidak tahu apa masalahnya. Tapi apapun itu kebijakannya, kami berharap tidak menganggu perusahaan lokal yang selama ini sudah terlibat dalam memproduksi pupuk organik bersubsidi," kata Sihotang.

Pihaknya kata Sihotang, siap mengikuti prosedur dan aturan termasuk standart pupuk organik yang akan ditentukan oleh PKG.

Produsen pupuk organik lainnya PT Agrotani Marisi yang dipimpin oleh Tulus Sitorus juga berharap agar PKG tetap memberdayakan kemitraan yang sudah terjalin selama ini. "Kami juga siap untuk dibina agar produksi pupuk organik yang kami hasilkan sesuai standart dari PKG yang selama ini juga sudah memenuhi standard pupuk PIM," kata Tulus.

Secara hitung-hitungan kata Tulus, pemberdayaan perusahaan lokal sebagai mitra dalam memproduksi pupuk organik akan lebih efisien dan efektif.

"Kalau didatangkan dari Jawa pastilah ongkos transportasinya lebih mahal dan waktunya juga akan lebih lama diperjalanan dibanding kalau mendatangkan langsung dari lokal," jelas Tulus.

Sementara itu, Kepala Pemasaran Sumut PT PIM Pendi Effendi Rachmat mengatakan, pengalihan tugas tersebut dari PIM ke Petro tidak ada masalah.

Sebab, itu sudah memang keputusan dari Pupuk Indonesia. "Kita kan sama-sama anak perusahaan Pupuk Indonesia (PIM dan PKG), jadi tidak ada masalah kalau itu dialihkan ke Petro Kimia Gresik," kata Pendi.  []