PIM MENUJU INDUSTRI PUPUK KOMPETITIF

Serambi Pase : Selasa 24 Februari 2015

Kilas Balik 33 Tahun

PT Pupuk Iskanadar Muda (PIM) adalah salah satu badan usaha anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang industri pupuk urea dan industri kimia lainnya. Pabrik PIM merupakan pabrik pupuk urea pertama dan berskala besar pertama di Indonesia yang dibangun oleh kontraktor nasional yaitu PT Rekayasa Industri selama dua tahun dari 1982-1984.

            Perusahaan itu diresmikan pada 20 maret 1985 dan di oprasikan secara komersil sejak 1 April 1985 sampai sekarang. Untuk Indonesia, PIM adalah perusahaan Ke-11 yang memproduksi urea dan yang kedua untuk Aceh.

            Penetapan lokasi pembangunan pabrik PIM di Aceh Utara berdasarkan pada faktor ketersediaan cadangan gas bumi sebagai sumber bahan baku, fasilitas water intake, adanya pelabuhan sebagai tempat bongkar muat peralatan pabrik, dan letaknya sangat strategis dengan negara tujuan ekspor.

Saat ini, PIM memiliki dua pabrik pupuk urea dan ammonia yaitu pabrik PIM-1 dan PIM-2. Kapasitas produksi ammonia pabrik – pabrik PIM-1 mencapai 330.000 ton per tahun dan urea 570.000 ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, awalnya PIM mengikat kontrak  jangka panjang dengan PT Pertamina 20 tahun dari 1984-2003. Gas yang dipasok berasal dari ladang gas Arun (ExxonMobil) sebagai bahan baku dengan harga 0,1 Dolar AS per Million Metric British Thermal Unit (MMBtu).

Selama 20 tahun lebih bergerak dalam bisnis perpupukan nasional, kinerja PIM sangat menonjol. Buktinya, jumlah pupuk yang di produksi umumnya melebihi kapasitas desain 570.000 ton per tahun dan kualitasnya sesuai standar nasional dan bahkan internasional. PIM-1 juga dapat meproduksi urea low biuret, yang dapat dipasarkan di dalam dan diluar negri karena di dukung oleh pelabuhan yang memadai, sehingga selalu mendapat laba yang cukup signifikan.

Semua prestasi PT PIM tersebut dicapai berkat dukungan sumber daya manusia yang cukup kompete dan tersedianya gas dengan harga yang kompetitif. Namun, keadaan PIM berubah drastis dalam sepuluh tahun terakhir atau setelah kontrak gas dalam jumlah yang cukup dan kontinyu.

 Kinerja PIM juga mengalami penurunan hingga tidak mampu mencapai produksi sesuai kapasitas desain. Penyebabnya, suplay gas terbatas dan pasokan bahan baku hanya cukup untu operasional satu pabrik. Sebab, harga bahan baku termasuk yang paling tinggi di lingkungan industri pupuk nasional, sehingga biaya produksinya melampaui harga pasar Urea.

 Konflik di Aceh pada tahun 1998-2006 juga menyebabkan PIM sebagai satu-satunya industri kimia di Aceh harus berhenti beroprasi karena tak mendapat suplai gas setelah PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) dan PT Kertas Kraft Aceh (KKA). Lalu, tahun 2003-2014 PIM baru mendapat pasokan gas yang dibelilangsung dari berbagai sumber melalui ExxonMobil dalam jumlah yang terbatas, seperti Swap PT Pupuk Kaltim, Easkal PSC, dan BP Tangguh dengan harga bervariasi dan relatif tinggi.

Kondisi ini menyebabkan kinerja perusahaan menjadi terganggu karena, pabrik PIM tak dapat beroprasi secara maksimal. Lalu pada tahun 2007, PIM mengikat kontrak dengan Medco EP Malaka untuk pengadaan gas dari Blok A agar mampu menyuplai gas ke PT PIM mulai tahun 2013 dengan jumlah 110 BBTUD. Namun, kontrak tersebut tidak terealisasi karena beberapa kendala. Padahal, bila eksplorasi Blok A sesuai skedul, akan sangat membantu operasional PT PIM sekaligus dapat menjamin ketersediaan pupuk untuk program ketahanan pangan di wilayah rayon pemasaran PT PIM.

 

Tingkatkan Produktifitas Tanam Pangan

PIM juga ikut mendukung program Pemerintah di bidang ketahanan pangan yaitu menyalurkan urea bersubsidi di wilayah rayon Sumatera Bagian Barat (Sumbagut).

Disamping untuk meningkatkan produktivitas tanam padi, PIM juga ikut serta dalam program Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) mulai tahun 2013 sampai saat ini. Tahun 2013 PIM mendapatkan tugas mengelola lahan dan membina petani di sejumlah area di Aceh seluas 60.000 Ha/tahun. Dan tahun 2014 PT PIM mencapai target pengelolahan seluas 80.000 Ha. Lalu, tahun 2015 PT PIM mendapat penugasan melebihi dari tahun sebelumnya yaitu 110.000 Ha yang meliputi sembilan kabupaten/kota yaitu Aceh Tamiang, Aceh Timur, Langsa Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireun, Pidie Jaya, Pidie dan Aceh Besar. Target pelaksanaan Produksi GP3K adalah meningkatkan produktivitas panen petani. Program intensifikasi padi yang dikembangkan PT PIM melalui GP3K tahun 2013-2014 berhasil meningkatkan panen padi rata-rata 1 ton/Ha. Sampai akhir 2014, PT PIM telah melakukan demontrasi plot (Demplot) di wilayah Aceh sebanyak 131 titik dari penugasan 300 titik demplot.

 

Terus Lakukan Diversifikasi Produk

Pada akhir 2014, PT PIM kembali mendapat kontrak tail gas yang merupakan sisa produksi ExxonMobil dari ladang gas Arun untuk kebutuhan operasi satu pabrik sampai 2018. Tak hanya itu, pada 27 Januari 2015, PIM juga sudah menandatangani kontrak pengadaan gas dengan PT Pertamina untuk jangka waktu 10 tahun dari 2015-2028. Kontrak pasokan gas dari PT Pertamina diperoleh dari Blok A Aceh Timur yang dioperasikan Medco EP Malaka dan sumber lainya dengan volume hanya cukup untuk operasional satu pabrik.

Dengan sudah ada suplai gas jangka panjang tentu akan menjamin keberlangsungan usaha. Karena itu, mulai 2015 PIM akan melakukan diversifikasi produk dan mencanangkan ekspansi usaha dalam rangka mengantisipasi harga pasar urea yang diprediksi relatif rendah sekitar 329 dolar AS per ton untuk 10 tahun ke depan.

Hal ini sekaligus untuk mengantisipasi setiap perubahan lingkungan bisnis yang terjadi termasuk dengan akan diberlakukannya perubahan kebijakan subsidi pupuk dari subsidi tidak langsung menjadi subsidi langsung kepada petani.

Walaupun pasokan gas tidak dapat diperoleh dalam jumlah dan harga pasti, tapi manajemen PT PIM tetap berusahan untuk mempertahankan kalangan usahanya. Sebagai buktinya, pada tahun 2014 PT PIM masih mampu meraih beberapa prestasi antara lain :

  • Mampu memproduksi urea 385.775 ton atau 114,81 persen dari rencana 336.000 ton dan realisasi pemasaran urea 377.267 ton atau 122,01 persen dari rencana 309.200 ton
  • Sudah mendapat sertifikat “Proper Biru” dari Kementrian Lingkungan Hidup
  • Realisasi Hari Tanpa Kecelakaan Kerja sejak tahun 2010 sampai 2014 mencapai 1.015 hari
  • Hasil Servei Kepuasan Lingkungan tahun 2014, PT PIM memperoleh score 85,22 persen dan masuk dalam kategori “Sangat Baik”
  • Hasil Servei Kepuasan Karyawan tahun 2014, PT PIM mendapat 74,79 persen dan masuk kategori “Puas”Realisasi assessment Kriteria Penilaian Kinerja Unggul (KPKU) tahun 2014 oleh Tim Eksternal PT Pupuk Indonesi, PIM memperoleh skor 479,75 dan berhasil pindah ke band Good Performance, dari score sebelumnya 464 Early Improvement.