PIM Bangun Pabrik Pupuk NPK

http://www.acehnationalpost.com

Rabu : 2 Januari 2013

Lhokseumawe – ANP : Tekat dan usaha keras, Drs Eko Sunarko, Direktur Utama PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Lhokseumawe dalam mempertahankan pabrik pupuk di Aceh terus beroperasi tidak sia sia. Ditengah sulitnya mendapat pasokan gas akibat harga gas yang terus melambung, mantan Dirut PT Pusri ini berhasil menyakinkan pemerintah untuk memperoleh gas bagi kelanjutan hidup PT PIM.

“Kita sudah mendapat satu kargo gas dari delapan kargo yang dicadangkan untuk kebutuhan produksi 2013 dengan harga US 8 dolar/MMBTU,” kata Eko Sunarko dalam acara pengantongan akhir pupuk urea bersubsidi tahun 2012 dan pengantongan awal tahun 2013 di gudang baging pabrik PT PIM, Senin malam (31/12).

Ditengah guyuran hujan menjelang detik detik pergatian tahun, Eko Sunarko yang didampingi Direktur Teknik & Produksi, Lili Djajuli, Direktur Keuangan & Komersil, Husni Achmad Zaki dan Direktur SDM & Umum Usman Mahmud dengan wajah selalu ceria selain memaparkan berbagai keberhasilan yang dicapai selama tahun 2012 juga kini sedang menggagas pembangunan pabrik pupuk jenis Nitrogen Phospor Kalium (NPK) yang lokasinya di areal pabrik PIM.

Untuk memproduksi pupuk NPK, lanjut Sunarko PT PIM akan bekerjasama dengan salah satu perusahaan pupuk dari luar negeri, yaitu Yordania. Menurutnya, pupuk NPK dari Yordan selama ini memiliki kualitas terbaik. "Kami optimis, tahun 2013 akan melakukan pengembangan membangun pabrik NPK kapasitas dua juta ton pertahun, diharapkan akhir tahun 2013 ini pembangunannya sudah dimulai,"  terang Eko

Dijelakan, sepanjang tahun 2012, PIM hanya mendapat pasokan gas sebanyak tujuh kargo, praktis tujuh cargo itu cukup untuk menghidupkan satu pabrik, padahal PIM memiliki dua pabrik. Begitu juga untuk tahun 2013 pemerintah sudah berkomitmen akan memasok gas delapan kargo. Dengan jumlah ini PIM tetap tidak bisa menghidupkan dua pabrik.

Menyikapi masalah itu PIM sedang berupaya mengurangi ketergantungan bahan baku gas, apalagi harga gas yang akan terus naik sehingga biaya produksi PIM  jauh lebih mahal dari produsen lainnya. Namun dalam tahun 2012 PIM masih mampu memproduksi ammonia dan pupuk urea untuk memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi untuk Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri dan Kalbar dengan total 454.000 ton per tahun.

Dalam menekan biaya produksi, PIM akan melakukan kombinasi energi. “Sumber energi dapat diperoleh dari batubara dan power plan. Pabrik pupuk urea di Cina sudah lama menggunakan batubara sebagai sumber energi. Batubaranya justru diimport dari Indonesia. Harga batubara lebih murah dari gas dan sumber batubara di Indonesia sangat melimpah,” ungkapnya.

Karenanya, lanjut Eko pihaknya sedang menjajaki studi kelayakan (feasibility study) untuk proyek batubara yang akan diubah menjadi gas (gasifikasi). Gasifikasi ini untuk memenuhi kebutuhan gas PT PIM mendatang akibat harga gas yang pada 2014 nanti dipredeksikan mencapai angka US 10 dolar.

Terhadap gasifikasi batubara, Eko Sunarko meminta masyarakat jangan khawatir terhadap akan terjadi pencemaran udara. “Tidak ada pencemaran udara karena proyek ini nantinya didesain melalui teknologi bebas pencemaran. Ini contoh pabrik pupuk di Cina menggunakan batubara,” ujar Eko seraya memperlihatkan unit gasifikasi batubara pabrik pupuk di Cina mlalui Blackberrynya.

Dalam keempatan ini dijelaskan pula terhadap realisasi produksi ammonia dan urea dalam sepanjang tahun 2012 masing-masing pupuk urea, 532.069 ton atau 93,35 persen dari rencana 570.000 ton, ammonia 357.460 ton atau 90,27 persen dari rencana 396.000 ton.

Sedangkan realisasi pemasaran urea, 520.287,57 ton atau 91,3 persen dari rencana 570.000 ton, ammonia 51.224,22 ton atau 78,4 persen dari rencana 65.400 ton. Sementara realisasi zero accident (hari tanpa kecelakaan kerja) 1.015 hari dan realisasi hari operasi 273.53 hari. Koordinator pengantongan akhir 2012 dan pengantongan awal 2013 PT PIM Sya’ban Daud mengaku semuanya berlangsung sukses.