Ada Protes Dari Tetangga

Serambi Indonesia : 2 September 2012

SAAT bicara tanpa teks di Universitas Almuslim (Unimus) Peusangan, Kabupaten Bireuen, Sabtu (1/9) kemarin, Dahlan Iskan buka kartu tentang adanya nada protes manakala PT Arun NGL Co akan dihidupkan kembali dengan mengalihkan fungsinya menjadi terminal elpiji untuk Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).

Nada protes itu, seperti diungkapkan Dahlan Iskan, berasal dari provinsi tetangga Aceh sendiri, yakni Sumut. Hal ini tercermin dari peryataan Dahlan berikut ini, “Kepastian untuk menghidupkan kembaki ketiga pabrik tersebut (PT Arun, KKA, dan PIM -red) sudah final, walaupun ada nada-nada protes dari provinsi tetangga, khususnya tentang terminal LNG Arun.”

Sebagaimana kerap diberitakan, memang sudah lama diwacanakan bahwa PT Arun yang kini sekarat akan dialihfungsikan sebagai terminal elpiji yang wilayah distribusinya mencakup Aceh dan Sumut.

Disenariokan bahwa untuk memenuhi kebutuhan Aceh dan Sumut akan elpiji, gas dan Arun juga akan dialirkan ke Sumut melalui jaringan pipa yang dibangun menghubungkan Arun-Belawan.

Nilai ivestasi untuk receiving terminal Arun itu mencampai 116 juta US dolar, belum termasuk biaya untuk pembangunan pipa ke Belawan. Demikian pernah diungkapkan teuku Riefky, politis Partai Demokrat yang pernah menjadi Ketua Komisi VII DPR RI kepada Serambi.

Menurut Riefky, receiving terminal Arun ditargetkan selesai tahun 2013 dan akan menjamin pasokan gas untuk PT AAF, PIM, dan KKA. Dengan demikian, bakal memberikan kesempatan kerja bagi 4.000 rakyat Aceh. Di sisi lain, roda perekonomian pun diprediksikan akan berjalan dnegan baik dan gejolak social dapat dihindari.

Jadi, karena alsan penghemata itu, di samping untuk mencegah timbulnya gejolak social di Aceh, mestinta provinsi tetangga yang tercinta, Sumatera Utara, tidak perlulah protes kepada Aceh, sebagaimana diungkapkan Dhalan Iskan. Toh bukankah hanya dalam urusan elpiji semata Aceh yang menjadi pemegang kendali atas Sumut ? sedangkan untuk berbagai komoditas lainnya, Sumut tetap permegang kendali atas Aceh. (dik/yus/fik)