Medco pasok gas PIM mulai 2013; Industri petrokimia di Lhokseumawe bakal hidup lagi

JAKARTA, Bisnis Indonesia, 15-11-2010 : PT Medco E&P akhirnya dipastikan memasok gas dari Blok A ke PT Pupuk Iskandar Muda mulai 2013 setelah manajemen kedua perusahaan menandatangani kesepakatan jual beli pekan lalu. Direktur Utama PIM Mashudianto mengatakan jual beli gas Blok A untuk PIM sudah disepakati sejak 27 Desember 2007. Namun, tuturnya, kontrak gas sebesar 110 BBtud (miliar British thermal unit per hari) dengan harga US$5,5 per juta Btu selama 7 tahun itu baru bisa efektif tahun ini.

“Kendalanya sangat politis dan di luar jangkauan para pihak. Satu masalah perpanjangan kontrak kerja sama dan satu lagi terkait dengan UU No.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. Tetapi semua itu sudah dilalui dengan berbagai kesepakatan positif, bahkan banyak terjadi lompatan,” paparnya akhir pekan lalu.

Kesepakatan pemberlakuan perjanjian jual beli gas tersebut merupakan kelanjutan dari disetujuinya perpanjangan kontrak Blok A oleh pemerintah baru-baru ini. Mashudianto mengatakan efektivitas jual beli gas tersebut telah menjamin keberlangsungan operasi PIM setelah kontrak ExxonMobil di Arun berakhir pada 2014. Pada 2011 dan 2012, tuturnya, PIM sudah mendapatkan komitmen pasokan swap sebanyak 10 dan 12 kargo dari Kalimantan Timur. “Dengan kesepakatan ini artinya pasokan gas untuk PIM akan berkesinambungan sehingga pabrik dapat beroperasi dengan kapasitas penuh.”

Presiden Direktur Medco E&P Indonesia Budi Basuki mengatakan untuk memastikan pasokan gas dari Blok A tersebut telah dilakukan berbagai terobosan, baik terkait dengan keekonomian proyek maupun perpanjangan kontrak. Medco, katanya, akan mengupayakan kesinambungan pasokan gas sesuai dengan kebutuhan PIM dengan melakukan kegiatan eksplorasi-eksplorasi tambahan. “Kontraknya kan 110 MMscfd selama 7 tahun mulai 2013. Kapasitas itu akan kami upayakan secepat mungkin tercapai. Secara alamiah bisa terjadi penurunan, tetapi kami akan upayakan tingkat produksi bisa bertahan selama mungkin,” ungkapnya. Budi mengaku cukup puas dapat memasok gas dari Blok A untuk kebutuhan industri dalam negeri daripada mengekspor LNG ke luar negeri. Terlebih lagi, menurut dia PIM juga siap membeli dengan harga yang baik.

Berdasarkan neraca gas versi pemerintah, kapasitas produksi awal Blok A yang akan dialokasikan untuk PIM sebesar 37 MMscfd. Kapasitas 110 MMscfd akan tercapai pada tahun kedua dengan perkiraan masa produksi plateu berlangsung selama 4 tahun sebelum kemudian turun secara bertahap. “Pertengahan 2011 nanti kami akan eksplorasi sumur Mapang dengan investasi US$20 juta. Itu bagian dari upaya kami mencari sumber-sumber gas baru,” ujarnya. Pusat Petrokimia Dengan efektifnya jual beli gas Blok A antara kedua perusahaan dan setelah Medco resmi memperoleh hak perpanjangan kontrak mengelola Blok A untuk 20 tahun, maka pasokan gas untuk industri dan ketenagalistrikan di Lhokseumawe, Nangroe Aceh Darussalam juga dipastikan aman.

Mashudianto menambahkan ke depan Aceh, terutama Lhokseumawe, berpotensi menjadi pusat industri petrokimia seperti pupuk, amoniak, amonium nitrat maupun methanol. Selain pasokan dari Blok A, katanya, Aceh berpotensi diguyur gas yang bersumber dari daerah lain, seperti Tangguh bahkan impor, apabila proyek terminal penerima LNG direalisasikan. “Kalau terminal itu direalisasikan, tahap awal 200 MMScfd bisa diperoleh. Dengan 6 tanki yang ada, potensi kapasitasnya bisa 600 MMscfd. FS sudah keluar dan proyek itu dinyatakan layak, sekarang tinggal menunggu kepastian siapa yang akan menjadi operator, apakah Pertamina atau bermitra dengan PT PGN [Persero] Tbk,” paparnya. Menurut dia, proyek tersebut hanya mengkonversi tanki offloading LNG Arun menjadi tanki unloading. Selain itu, katanya, untuk mengalirkan LNG ke konsumen akhir perlu ditambahkan peralatan evaporasi untuk mengubah hidrokarbon dari fasa liquid ke fasa gas.

(Tri D. Pamenan)