Pasokan gas untuk PIM aman untuk 20 tahun

JAKARTA (Bisnis.com), 18/06/2010: PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) meyakini pasokan gas dalam jangka panjang untuk PIM dan industri konsumen gas di Nanggroe Aceh Darussalam cukup aman hingga 20 tahun mendatang.

Direktur Utama PIM Mashudianto mengungkapkan pasokan gas untuk aktivitas perusahaan itu akan didapatkan melalui swap dari kilang Bontang sebanyak 3 kargo dan lapangan Arun milik ExxonMobil sebanyak 3 kargo pada tahun ini. “Jadi ada enam kargo pasokan gas yang masuk pada 2010 sehingga pabrik bisa berjalan normal.

Pada 2015, kami akan mendapatkan pasokan dari modifikasi terminal Arun dan setelah dimodifikasi maka pasokan gas untuk PIM, PLN, dan industri di Aceh bisa aman sampai 20 tahun ke depan,” kata dia di Kantor Kementerian BUMN, sore ini. Dengan masuknya pasokan gas swap sebanyak enam kargo tersebut, lanjut dia, satu pabrik milik PIM bisa berproduksi penuh sebesar 1.725 ton urea per hari, meskipun satu pabrik lainnya tidak beroperasi.

Menurut dia, semua produksi PIM akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, yakni domestik subsidi pupuk untuk wilayah Aceh. Sementara itu, untuk distribusi di luar Aceh, PIM melakukan kerja sama operasi (KSO) dengan Pupuk Sriwijaya di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Lampung sekitar 400.000 ton untuk subsidi hingga akhir tahun ini. “Kalau kapasitas pabrik kami per tahunnya itu sekitar 570.000 ton untuk satu train. Kedua pabrik kami bisa full capacity produksinya sekitar 2011-2012.”

Dia mengakui perusahaan itu telah mendapatkan komitmen pasokan gas sebesar 11 kargo untuk 2011 dan 12 kargo pada 2012 dari kilang Bontang. Selain itu, dia menambahkan PIM juga akan mendapatkan pasokan gas dari Blok A yang dikelola PT Medco Energi Internasional Tbk pada 2013. Menurut dia, PIM telah menandatangani kontrak jual beli gas dengan Medco pada Desember 2007 dengan lama kontrak 9 tahun. Hanya saja, dia menjelaskan PIM akan mendapat pasokan sebesar 110 MMscfd pada empat tahun pertama. Sementara itu, untuk lima tahun berikutnya volume pasokan akan naik menjadi 160 MMscfd. “Harga kargo pertama 2010 ini sekitar US$7,5 [per juta Btu], sekarang jadi US$5,65 [per juta Btu]. Itu [harganya] kan fluktuasi.

Persoalan PIM itu tidak mudah, untung tidak mati,” tutur Mashudianto. Sebelumnya, PIM tercatat dua kali berturut-turut mencatat rekor harga pembelian gas tertinggi di pasar domestik. Setelah mendapatkan kontrak gas seharga US$6 per juta Btu dari Arun, PIM kemudian membeli gas dari Bontang yang diswap dengan gas Arun seharga US$7,5 per juta Btu.

Mashudianto sebelumnya mengatakan pertimbangan terpenting perusahaan untuk membeli gas dengan harga yang setara dengan pasar spot internasional tersebut adalah agar pabrik tetap aktif. Padahal, tuturnya, dengan harga pembelian gas tersebut perusahaan bisa merugi karena biaya produksi telah di atas harga pasar pupuk. (ln)

Oleh: Nurbaiti
Jumat, 18/06/2010 21:03:32 WIB