Prioritaskan Kebutuhan Domestik, Harga Gas Domestik Harus Lebih Murah

 JAKARTA - 09/12/2009 - Pemerintah diminta memprioritaskan pasokan gas untuk pasar dalam negeri dari pada mengekspornya. Kalau pun gas itu dijual ke negara lain, harganya harus lebih mahal dari harga domestik.

Permintaan penjualan gas itu juga disarankan bagi gas hasil ladang Blok Natuna D Alpha yang hak pengelolaannya berada di tangan PT Pertamina (persero). ''Alokasi ini untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan asumsi LNG receiving terminal PGN sudah ada,'' ujar anggota Komisi VII DPR, Satya W Yudha, di Jakarta, Selasa (8/12).

Setelah memenuhi kebutuhan domestik, Satya berpendapat sisa produksi gas bisa diekspor. Penentuan harganya harus ditentukan berdasarkan nilai keekonomian proyeknya. Karena itu terkait gas hasil Blok Natuna, dia akan meminta pemerintah bersama Pertamina untuk menghitung nilai keekonomiannya sebelum plant of development (POD) disetujui.

''Sehingga kita tahu berapa persen untuk jatah domestik dan berapa persen untuk ekspor,'' imbuhnya. Satya menyadari Blok Natuna merupakan proyek besar dengan kandungan gasnya sekitar 45,5 triliun kaki kubik (tcf). Namun, gas dari ladang ini memiliki kandungan 10 juta kondensat dan dengan CO2 kadar 71 persen. ''Dengan kondisi ini tentunya memerlukan pembiayaan yang sangat besar,'' kata dia.

Dengan alasan itu, Satya menegaskan perlunya perhitungan cermat keekonomian harga gasnya. Penjualan gas ke luar negeri diyakininya bisa lebih besar dibandingkan ke pasar domestik.

Pengamat perminyakan, Kurtubi, berpendapat pengembangan gas Blok Natuna sebaiknya sejak dini dipersiapkan untuk domestik maupun ekspor. ''Karena cadangan gas methane dari Natuna yang bisa diproduksikan sangat besar,'' ujarnya. Saat ini, Kurtubi menekankan perlunya mencari mitra yang pas bagi Pertamina untuk menggarap Blok Natuna agar sukses dan aman bagi lingkungan.


Ed: Budi R