Kontrak Gas Tangguh ke Amerika Dialihkan ke Domestik

Koran Tempo, 07 Desember 2009. Harga gas ke Fujian lebih rendah daripada harga yang dibeli PLN. JAKARTA -- Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) berencana mengalihkan 50 persen penjualan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Tangguh ke Amerika untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Rencananya, gas itu untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dan pabrik pupuk.

Kontrak jual-beli gas Tangguh dengan Sempra Energy Marketing sebanyak 3,7 juta ton per tahun dibuat pada 2004. Tangguh memasok gas selama 20 tahun dengan harga US$ 5,94 per mmBtu. Rencana pengalihan dari Sempra kepada pembeli lain karena pembangunan terminal di Pantai Barat (West Coast) Amerika lebih cepat daripada kilang Tangguh. Sesuai dengan rencana, pembangunan terminal selesai pada triwulan kedua 2008. Namun pada triwulan pertama terminal penerima selesai dibangun.

Deputi Pengendalian Operasi BP Migas Budi Indianto mengatakan pengalihan sebanyak 1,85 juta ton gas Tangguh itu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. "Pengalihan itu harus memenuhi ketentuan dalam kontrak," ujarnya. Menurut Budi, rencananya, gas itu akan ditujukan untuk pembangkit listrik di Bali dan pabrik-pabrik pupuk di Aceh. "Mungkin juga ke pembeli lain, tapi harapan kami ke domestik," katanya.

Pengalihan itu, kata dia, akan menjadi upaya persiapan infrastruktur dan proyek floating storage regasification unit (unit regasifikasi kilang terapung) gas alam cair di Bali. Pengamat perminyakan Kurtubi menyambut baik rencana pengalihan gas Tangguh untuk memenuhi gas domestik. Pengalihan itu seharusnya dilakukan juga untuk kontrak jual-beli gas Tangguh dengan Fujian, Cina. "Kontrak gas dengan Cina harganya sangat murah," ujarnya.

Menurut dia, kontrak yang ditandatangani pada 2002 semasa Menteri Energi Purnomo Yusgiantoro itu hanya dihargai sebesar US$ 3,35 per mmBtu. Harga yang ditetapkan flat (tidak mengikuti pergerakan harga minyak). Padahal, di dalam negeri, PT PLN (Persero) berani membeli gas dengan harga tinggi. "Untuk gas dari Bekasi ke pembangkit Muara Karang, PLN berani membeli seharga US$ 5,5 per mmBtu," katanya.

Saat ini, kata Kurtubi, PLN membutuhkan pasokan gas dalam jumlah besar untuk mengoperasikan pembangkit. "Kemampuan daya belinya juga tinggi," ujarnya. Dia menyayangkan sikap pemerintah yang tidak segera melakukan negosiasi ulang kontrak gas dengan Fujian, Cina. Seharusnya, kata Kurtubi, pemerintah segera melakukan renegosiasi kontrak dengan Cina untuk mendapatkan harga terbaik.

Menurut Kurtubi, pemerintah dapat kembali menunjuk Pertamina sebagai lead seller (penjual utama) gas itu, seperti juga yang terjadi pada penjualan ke Tohoku Electric Power Co. "Seharusnya dari awal pemerintah yang menunjuk penjualan gas alam cair Tangguh," katanya. Apalagi, kata dia, penjualan gas merupakan urusan bisnis ke bisnis, yang harus dilakukan entitas bisnis, seperti Pertamina, bukan pemerintah.

Rabu pekan lalu, Pertamina berhasil menjual gas Tangguh ke perusahaan Jepang, Tohoku, dengan harga yang lebih baik daripada harga kontrak pembeli Cina. Juru bicara Pertamina, Basuki Trikora Putra, mengatakan perjanjian dengan Tohoku akan berlaku mulai 2010 selama 15 tahun. Volume gas yang akan dijual sebesar 125 ribu ton per tahun. Dia menolak memberikan penjelasan perihal harga jual gas ke Jepang tersebut. Namun Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi R. Priyono dalam pesan singkatnya menyatakan formula harganya sudah sangat baik dan mengikuti harga minyak. "Dengan Tohoku, harga jual gas adalah yang terbaik dari kontrak-kontrak yang sudah ada," katanya.

Sebelumnya, menyangkut kontrak jual-beli gas alam cair dari Tangguh ke Tohoku, pemerintah menganggap kontrak jual-beli tersebut sebatas kesepakatan awal. "Itu masih initial (kesepakatan awal)," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Evita Legowo, Jumat pekan lalu. Menurut dia, kedua pihak belum menemukan kesepakatan harga. "Masih dihitung harga jual-beli gasnya," katanya. Namun Basuki Trikora menyatakan perjanjian itu telah final. "Penandatanganan Rabu lalu bukan initial, sudah perjanjian jual-beli (sales purchase agreement)," ujarnya.

Kontrak Pertamina dengan Tohoku menjadi masalah karena belum mendapat persetujuan dari Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Profil Proyek Gas Tangguh Lokasi: Teluk Bintuni, Papua Kontraktor bagi hasil: BP Cadangan gas: 14,4 triliun kaki kubik Proyek dimulai: Maret 2005 Pengapalan LNG pertama: Akhir 2008 Kapasitas produksi: 7,6 juta ton per tahun Total biaya: US$ 6,5 miliar Partner: BP Berau (37,16 persen), CNOOC (16,96 persen), MI Berau (16,30 persen), Nippon Oil (12,23 persen), KG Wiriagar (10 persen), LNG Japan Corp (7,35 persen) Kontrak Penjualan Gas Negara Volume/Tahun Jangka Waktu Harga 1. Fujian (Cina) 2,6 juta ton 25 tahun US$ 3,35 2. SK Power (Korea) 0,55 juta ton 20 tahun US$ 3,5 3. Posco (Korea) 0,55 juta ton 20 tahun US$ 3,36 4. Sempra (Amerika) 3,7 juta ton 20 tahun US$ 5,94 SORTA TOBING | ALI NUR YASIN(ALI NY)