PIM Mulai Operasi, Bisa Pasok 811.000 Ton Urea

Sabtu, 17 Januari 2009. Jakarta, Kompas - Dua unit pabrik PT Pupuk Iskandar Muda, atau PIM, akan dioperasikan bertahap. Unit II telah mulai beroperasi Jumat (16/1). Adapun unit I ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2009.

Menurut Direktur Utama PT PIM Mashudianto di Jakarta, semua produksi PIM akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik. Sampai akhir tahun diperkirakan PIM bisa memasok 811.000 ton urea. Mashudianto mengatakan, harga gas yang diperoleh PIM dari ExxonMobil, yang mengoperasikan lapangan North Sumatera, relatif murah, 5,8 dollar AS per MMBTU.

Sebelumnya, dengan harga minyak yang tinggi, PIM membeli gas dengan harga 7,5 dollar AS per MMBTU. Dijelaskan, sesuai keputusan pemerintah, PIM akan memasok 644.000 ton pupuk urea bersubsidi dan 167.000 ton pupuk nonsubsidi untuk perkebunan. Pemerintah mengalokasikan 5,5 juta ton pupuk urea bersubsidi untuk musim tanam 2009. Alokasi itu meningkat 1,2 juta ton dibandingkan awal 2008 dan lebih besar 700.000 ton dibandingkan alokasi akhir 2008.

Pabrik pupuk PIM yang berlokasi di Lhok Seumawe, Nanggroe Aceh Darussalam memiliki dua unit pabrik. Unit I berkapasitas 600.000 ton dibangun tahun 1984. Ketika pabrik unit I mulai kekurangan gas karena pasokan dari lapangan North Sumatera Onshore menurun, dibangunlah pabrik unit II. Pabrik unit II mulai beroperasi pada 2005 dengan kapasitas 570.000 ton.

Sejak tahun 2005, kedua pabrik PT PIM beberapa kali berhenti operasi karena tidak mendapat pasokan gas. Tahun lalu, PIM hanya beroperasi sembilan bulan. Pemerintah memproyeksikan kebutuhan gas untuk PIM akan teratasi penuh setelah gas dari Blok A berproduksi tahun 2011.

Pada 2010, PIM diupayakan mendapat pasokan tiga kargo gas dari Lapangan Tangguh, Papua. Untuk sementara, pemerintah memperpanjang umur PIM dengan mekanisme pengalihan (swap) gas yang diekspor. Gas dari North Sumatera yang diolah menjadi gas alam cair di Kilang Arun diambil sebanyak kebutuhan pabrik PIM.

Selanjutnya, pemerintah mengganti gas untuk komitmen ekspor tersebut. Tahun-tahun sebelumnya, gas untuk swap diambil dengan mengurangi pasokan gas ke PT Pupuk Kaltim (PKT). Gas untuk PKT diolah sebagai gas alam cair di Kilang Bontang. Tahun ini, pemerintah menginginkan semua pabrik pupuk berproduksi penuh untuk memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi. (DOT)