Petronas Pasok Gas PIM Pupuk Iskandar Muda juga sedang mencari pemasok lain

Republika, Jakarta, 28-07-2008 -- Departemen Perindustrian menyebutkan bahwa Petronas (Petroliam National Berhard/BUMN migas asal Malaysia), berkomitmen memasok gas ke PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), supaya tidak berhenti beroperasi.

Sistem pasokan gas melalui mekanisme pengalihan (swap) sebanyak 3 kargo pada September-Oktober, dengan nilai 135 juta dolar AS. Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian (Depperin) RI, Benny Wachjudi, menjelaskan pemerintah berkomitmen agar pabrik PIM unit II tidak berhenti beroperasi (idle capacity) pada Oktober, menyusul mulai menipisnya cadangan gas dari hasil swap gas PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) sebanyak tiga kargo.

Apabila cadangan gas dari hasil swap PKT menipis, Depperin menyarankan, PIM diminta dapat mencari berbagai sumber gas lain yang disesuaikan dengan skala keekonomisan. ''Swap gas dari PKT ke PIM akan selesai pada Oktober. Setelah itu, PIM harus mencari sumber-sumber lain apabila ingin terus berproduksi. Kendati PIM sudah meminta perpanjangan swap gas ke PKT, realisasinya paling cepat mungkin pada April 2009. Karena itu, penjajakan dengan Petronas dan berbagai sumber lain dimungkinkan sejauh nilainya masih ekonomis,'' jelas Benny, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Swap gas dari PKT ke pabrik PIM II tersebut telah dimulai pada Mei 2008. Gas tersebut dialirkan lewat pipa-pipa offshore milik ExxonMobil. Namun, pasokan gas PKT diperkirakan hanya cukup memenuhi bahan bakar pupuk PIM selama enam bulan, padahal PIM membutuhkan sedikitnya 6 kargo gas untuk satu unit pabrik dari dua unit yang dimiliki, selama setahun. Depperin mencatat, total kapasitas terpasang dua pabrik PIM sebesar 1,14 juta ton (setara 570.000 ton x 2 unit), dengan produksi urea harian sekitar 1.750 ton atau 103 persen dari total kapasitas terpasang.

Selama ini PIM baru beroperasi 25 persen dari total kapasitas akibat ketiadaan gas di NAD. Grup perusahaan minyak Medco E & P telah berkomitmen di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memasok kebutuhan gas bagi pabrik PIM 1 dan 2 selama enam tahun mulai 2010. Kapasitasnya sebanyak 110 MMscfd (juta kaki kubik per hari) yang dialirkan dari Blok A, Arun, NAD sehingga PIM dapat beroperasi 100 persen mulai kuartal IV/2010.

Direktur Utama PT PIM, Mashudiyanto, menjelaskan, penjajakan untuk proyek pengalihan gas dengan Petronas masih dalam tahap perundingan intensif. Pertemuan dengan Petronas sudah empat kali. ''Saat ini dua direktur kami berada di sana (Malaysia),'' katanya. Dijelaskan, sesuai jadwal, Petronas akan mengimpor gas dari Mesir dan dikirim ke kontrak gas Exxon di Korea. Lewat anak usaha Petronas, Midco, gas tersebut akan dialihkan ke PIM sebesar 3 kargo. Kemudian, PIM akan memproses gas itu untuk bahan bakar urea sehingga produksi pabrik tidak di bawah kemampuan. ''Jika nanti ada keuntungan, akan kami share antara Group Petronas dengan PIM. Untuk itu, perundingan antara PIM-Petronas diharapkan menghasilkan win-win solution,'' katanya.

Selain Petronas, lanjutnya, PIM juga sedang membuka ruang negosiasi gas dengan beberapa perusahaan lain. Diantaranya dengan Gazprom (BUMN migas Rusia yang dikenal sebagai ekstraktor LNG terbesar di dunia), dan dari Ras Laffan LNG Co Ltd (RasGas/anak usaha Qatar Petroleum dan ExxonMobil RasGas Inc) sebanyak 3 kargo. ''Pada prinsipnya, kami akan ambil proses negosiasi yang tercepat dan bisa mendatangkan profit yang cukup bagus. Sebab, 1 unit pabrik PIM ini membutuhkan sedikitnya 6 kargo untuk beroperasi optimal selama 1 tahun penuh.''