Pupuk Iskandar Muda siap beli gas dari gasifikasi batu bara

Bisnis Indonesia, Selasa,24-06-2008, Industri, JAKARTA: PT Pupuk Iskandar Muda menyatakan siap membeli gas dari gasifikasi batu bara yang dikembangkan investor, termasuk proyek coal gasification yang dilakukan Incitec Pivot, perusahaan asal Australia dengan nilai investasi sekitar US$600 juta.

Kesanggupan membeli gas dari gasifikasi batu bara tersebut merupakan upaya dari BUMN tersebut untuk memenuhi kebutuhan gas sebagai bahan baku produksi pupuk urea. Pasokan gas dari gasifikasi itu sekaligus untuk menjamin pasokan gas dalam jangka panjang bagi pabrik PIM yang saat ini telah memiliki kontrak kerja sama pasokan sebesar 110 MMscfd (juta standar kaki kubik per hari) dengan Medco E&P.

Untuk kontrak dengan Medco E&P tersebut, PIM mendapat jaminan pasokan gas dari lapangan migas Blok A di Nanggroe Aceh Darussalam selama enam tahun, terhitung sejak kuartal IV 2010. Dalam kontrak itu, harga gas yang dibayar PIM sebesar US$5 per juta Btu.

Direktur Utama PT Pupuk Iskandar Muda Mashudianto mengatakan untuk mengamankan pasokan gas sampai 20 tahun ke depan, perusahaan mulai mengembangkan program coal gasification. Perusahaan, katanya, tidak akan menanamkan modal untuk proyek tersebut, tetapi hanya membeli produk gas berbahan baku batu bara yang dikembangkan investor. "Siapa saja yang bisa menyediakan gasifikasi batu bara, kami siap membelinya, tentu harganya tidak lebih mahal dari harga gas dari Blok A. Saat ini, memang baru Invitec yang menawarkan kepada kami. Saya tekankan hal ini tidak bertabrakan dengan kontrak Blok A, tetapi malah saling mengisi dan berkesinambungan," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Seperti diketahui, Incitec Pivot, lanjut Mashudianto, berniat menanamkan modal sekitar US$600 juta untuk membangun pabrik gasifikasi batu bara di mana hasil produksinya akan dijual kepada PIM. Saat ini, investor asal Australia tersebut melakukan detail studi kelayakan proyek dan diharapkan rampung pada akhir tahun ini. Ketika ditanya mengapa PIM tidak membangun proyek gasifikasi batu bara sendiri, Mashudianto menegaskan BUMN tersebut saat ini belum memiliki akses yang baik ke perbankan untuk mencari pinjaman, karena masih merestrukturisasi pinjaman dari Japan Bank for International Cooperation sebesar US$151,5 juta (pokok) dan US$63 juta (bunga). "Selain itu, investasinya juga besar minimum US$600 juta. Untuk itu, kami memilih outsourcing. Kalau tahun ini selesai feasibility study-nya, maka tahun depan diperkirakan mulai financial engineering dan pembangunannya sekitar tiga sampai empat tahun," paparnya.

Untuk pembangunan proyek ini, Invitec menjalin kerja sama dengan PT Rekayasa Industri. "Proyek tersebut diperkirakan sudah on stream pada 2015 atau 2016, setelah suplai gas dari Blok A mengalir ke pabrik PIM." Dia memperkirakan dibutuhkan 4 juta hingga 5 juta ton batu bara per tahun untuk menghasilkan 1,14 juta ton pupuk urea dengan mengoperasikan dua unit pabrik PIM.

Dia menambahkan terhitung sejak 1 Juni 2008, BUMN pupuk ini telah menghidupkan pabrik PIM 2 untuk jangka waktu lima hingga enam bulan ke depan dengan pasokan gas swap dari PT Pupuk Kalimantan Timur sebanyak tiga kargo. Perusahaan, katanya, memilih untuk menghidupkan pabrik PIM 2 daripada PIM 1 karena unit tersebut lebih efisien dengan utilisasi produksi urea 95%-100% atau sebesar 45.000 hingga 50.000 ton per bulan. Oleh Siti Munawaroh Bisnis Indonesia