Harga Tebusan Urea Diturunkan

Jumat, 20 Juni 2008 PROBOLINGGO, Kompas - Pupuk Kaltim menurunkan harga tebusan atau harga jual pupuk urea bersubsidi dari produsen ke distributor. Langkah itu dilakukan untuk menjaga margin di tingkat distributor agar harga eceran tertinggi atau HET tetap terjaga Rp 1.200 per kilogram.

Demikian dikemukakan Pengawas Pupuk Kaltim wilayah Kabupaten-Kota Probolinggo dan Kabupaten Lumajang Fried William dalam jumpa pers di Kota Probolinggo, Kamis (19/6). Hadir pula dalam kesempatan itu, Ketua Asosiasi Distributor Kabupaten Probolinggo Abdul Rasyid dan sejumlah distributor.

Menurut Fried, menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), biaya distribusi pupuk naik, sedangkan HET tetap. Dengan demikian, guna menjaga margin di tingkat distributor, Pupuk Kaltim menurunkan harga jual pupuk ke distributor dan kios pengecer. ”Ini adalah keputusan Direksi Pupuk Kaltim yang sudah disosialisasikan ke para distributor dan berlaku mulai 10 Juni 2008,” kata Fried.

Di Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Lumajang serta wilayah lainnya di Jawa Timur, harga jual pupuk urea bersubsidi dari produsen ke distributor sebelumnya Rp 1.090 per kg, sedangkan harga terbaru Rp 1.070 per kg. Harga jual dari distributor ke kios pengecer dari Rp 1.160 turun menjadi Rp 1.150 per kg. Dengan demikian, margin yang diperoleh distributor meningkat dari Rp 70 per kg menjadi Rp 80 per kg. Biaya transportasi dari gudang Pupuk Kaltim di daerah ke gudang distributor ditanggung distributor. Demikian pula dengan biaya transportasi dari gudang distributor ke kios pengecer.

Menyinggung harga jual pupuk urea bersubsidi di kios pengecer di Kabupaten Probolinggo yang sempat di atas HET, Abdul Rasyid mengakui itu sebagai keteledoran. Namun, ia menegaskan, harga jual dari distributor ke kios kini sesuai ketentuan, yakni harga lama Rp 1.160 per kg dan harga baru Rp 1.150 per kg. ”Saya sudah mengultimatum kios agar tidak menjual pupuk di atas HET,” kata Rasyid.

”Repacking” Kepolisian Kota Besar Bandar Lampung kemarin berhasil mengungkap kasus repacking atau pengarungan pupuk urea bersubsidi produksi PT Pupuk Sriwidjaja menjadi pupuk nonsubsidi. Pupuk sebanyak 160 zak atau sebanyak delapan ton ditemukan di halaman sebuah rumah di Jalan Soekarno Hatta, Bandar Lampung.

Kepala Kepolisian Kota Besar Bandar Lampung Komisaris Besar Syauqie Ahmad ketika penggerebekan di rumah milik M Isa tersebut mengatakan, penggerebekan merupakan murni hasil penyelidikan kasus yang dilakukan pihak kepolisian. M Isa bekerja sama dengan ayahnya yang memiliki usaha ekspedisi pengangkutan. Isa memanfaatkan truk-truk milik ayahnya untuk mengangkut pupuk guna mendapatkan pupuk bersubsidi. Isa mengganti karung pupuk dibantu istrinya. Dalam kegiatannya, pupuk bersubsidi dijual dengan harga Rp 1.200 per kilogram atau sekitar Rp 60.000 per zak isi 50 kilogram. Adapun pupuk nonsubsidi dijual Rp 4.500 per kilogram atau sekitar Rp 225.000 per zak. (LAS/HLN)