Produksi Pupuk Iskandar Muda Terganggu

(Investor Daily, 29 November 2007) - PT. Pupuk Sriwidjaja (Pusri) mengungkapkan, operasional pabrik PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Nanggroe Aceh Darussalam terganggu sehingga berdampak pada pencapaian target produksi pupuk nasional yang mencapai 7,5 juta ton tahun ini.

Pasokan pupuk dari PIM sebelumnya diharapkan mampu menyuplai sebanyak 1,1 juta ton pupuk. “Di antara perusahaan pupuk yang bergabung dalam holding PT. Pusri, hanya PIM yang terhambat,“ ujar Dirut PT. Pusri Dadang Heru Kodri usai penandatanganan piagam pakta integritas melawan korupsi di Jakarta, Rabu (28/11).

Menurut Dadang, tersendatnya produksi pupuk dari PIM disebabkan pasokan bahan baku gas ke perusahaan itu terganggu. Kondisi itu dipastikan akan berdampak sangat besar pada produksi pupuk nasional, karena PIM mempunyai kapasitas produksi pupuk urea sekitar 1,1 juta ton. Kondisi itu juga dipastikan akan merugikan Indonesia karena harga pupuk di pasar internasional pada tahun-tahun mendatang diperkirakan terus meningkat dibandingkan harga saat ini yang mencapai US$ 320 per ton.

Dengan membaiknya harga pupuk tersebut, perusahaan yang bergabung dalam holding PT. Pusri saat ini berhasil mengumpulkan laba kotor hingga Rp. 2 triliun atau 250% dari target. Dadang mengakui, PT. Pusri yang merupakan holding perusahaan pupuk nasional belum dapat memperkirakan target produksi pupuk pada 2008 karena operasionalnya tergantung pada harga gas dunia. Saat ini, ongkos produksi pupuk nasional yang mencapai US$ 3,5 per ton diperkirakan tidak naik kendati harga gas di pasar melonjak. Sebab, pabrik pupuk umumnya sudah mempunyai kontrak pasokan gas sebagai bahan baku pembuatan pupuk untuk jangka waktu tertentu. “Mudah-mudahan Pertamina tidak mengubah kontraknya, karena bisa saja kontrak putus di tengah jalan karena harga gas yang semakin meningkat,” ujar Dadang.

Sementara itu, Dirut PIM Mashudianto mengakui perusahaan masih kekurangan pasokan gas jika hanya mengandalkan pengalihan (swap) gas dari Pupuk Kalimantan Timur (PKT). Dengan kebutuhan PIM-I dan II sebanyak 12 kargo, PKT hanya mampu menyuplai gas sebanyak tiga kargo atau masih terdapat kekurangan sembilan kargo. “Kebutuhan kami 12 kargo, untuk itu pemerintah harus tetap konsisten memenuhinya. Kalau tidak, pabrik akan mati. Saat ini saja kami sudah tidak berproduksi,” kata Mashudianto seraya mengatakan ketidakpastian pasokan gas kemungkinan akan berlanjut hingga 2008 – 2010 karena pasokan jangka panjang dari Blok A baru dikirim pada kuartal IV 2010 hingga 2016. Untuk itu, dia mengharapkan pemerintah mau menjadwalkan ulang (rescheduling) ekspor gas ke Korea atau meminta gas dari Arun yang dikelola Exxon untuk memasok kebutuhan gas PIM.

Selama ini, PIM membeli gas dari PKT sebesar US$ 3,5 per MMBTU namun untuk gas dari Arun PIM harus membayar sebesar US$ 4 per MMBTU. Sekretaris Menneg Badan Usaha Milik Negara Said Didu menegaskan, pemerintah akan meminta komitmen dari Badan Pengelola Minyak Bumi dan Gas (BP Migas) untuk memprioritaskan pasokan gas dalam negeri ketimbang mengekspor gas tersebut. Said menilai, harga pupuk internasional yang kini melambung hingga US$ 350 per ton dianggap lebih menguntungkan sekaligus memberikan devisa kepada negara yang jauh lebih besar, dibandingkan ekspor gas semata-mata. Selain itu, berproduksinya PIM akan menambahkan pasokan pupuk di dalam negeri.