PIM Masih Kesulitan Pasokan Gas

(Bisnis Indonesia, 30 November 2007) - Pabrik pupuk urea PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) masih mengalami kekurangan pasokan gas karena hanya mengandalkan swap, atau pengalihan gas dari PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk (PKT).

Direktur Utama PT PIM Mashudianto mengatakan kebutuhan gas bagi pabrik PIM-1 dan 2 saat ini sebanyak 12 kargo, sedangkan PKT maksimal hanya bisa memberikan sekitar tiga kargo sehingga masih terdapat kekurangan sekitar sembilan kargo. "Kebutuhan gas PIM mencapai 12 kargo seperti halnya hasil audit oleh Pemerintah. Pemerintah semestinya konsisten untuk memenuhinya karena kalau tidak dipasok gas dengan cukup pabrik akan mati. Saat ini saja sudah tidak berproduksi," ujarnya baru-baru ini.

Dia berharap Pemerintah bersedia menjadwal ulang ekspor LNG ke Korea Selatan dan Jepang dan memasok gas dari Ladang Arun yang dikelola Exxon Mobil Oil Indonesia (EMOI) bagi pabrik urea PIM. "PKT paling banyak cuma dapat memberikan tiga kargo sedangkan sisanya harus tetap dipasok dari sumber lainnya mengingat pada 1 Januari 2008 mau nggak mau pabrik harus jalan lagi," katanya.

Lewat mekanisme swap tersebut PIM membeli gas dari PKT senilai US$ 3,5 per juta BTU (British Thermal unit), sedangkan gas dari Ladang Arun dibeli dengan harga lebih tinggi, yakni US$ 4 per juta BTU. Menurut dia, ketidakpastian suplai gas tersebut akan berlanjut hingga 2010, karena pasokan gas jangka panjang dari Blok A baru dapat dikirim pada kuartal IV/2010 yang akan berlangsung hingga 2016.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian BUMN, M. Said Didu, meminta pemegang kebijakan, BPMIGAS, bersikap arif dan berpikir ekonomis terkait dengan ketidakpastian pasokan gas untuk PIM. "Kita harapkan, tolonglah yang punya kekuasaan dala pengadaan gas, agar memerintahkan untuk memenuhi kebutuhan di negeri. Apalagi harga pupuk saat ini sedang bagus, yakni mencapai kisaran US$ 350 per ton. Kalau gas diolah menjadi pupuk kan bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibanding diekspor dalam bentuk LNG," paparnya. (M02)