Pasokan Dua Pabrik Pupuk Di Aceh Terjamin Hingga 2017, Medco – PIM Sepakati Harga Gas

(Media Indonesia, 28 November 2007) - Medco E & P Indonesia dan PT. Pupuk Iskandar Muda (PIM) menyepakati harga gas untuk memasok dua pabrik PIM di Nanggroe Aceh Darussalam US$5 per millions british thermal unit (mmbtu). Kontrak yang disepakati itu akan berlaku mulai 2010 hingga 2017.

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) Kardaya Warnika mengungkapkan, kesepakatan itu dicapai beberapa waktu lalu dalam negosiasi antara PIM dan Medco. “Saat ini yang disepakati antara PIM dan Medco baru masalah harga yakni US$5 per mmbtu dengan sistem formula,“ ujar Kardaya di sela-sela acara penandatanganan Pakta Integritas di Jakarta, kemarin.

Kardaya menambahkan, selain bersepakat US$5 per mmbtu, kedua pihak juga setuju untuk menerapkan sistem bagi hasil. “Bila nanti harga pupuk internasional mencapai US$360 per ton, mereka setuju untuk membagi keuntungan 60:40. Tentu saja porsi terbesarnya akan diserahkan kepada PIM.” Mengenai masalah pasokan gas PIM pada 2008, pemerintah masih mempertimbangkan pengalihan gas (swap) dari PT. Pupuk Kalimantan Timur (PKT). “Untuk pengiriman 2008, kita minta swap Kaltim. Volume yang didiskusikan sama dengan tahun kemarin,” tutur Kardaya.

Swap dengan Kaltim itu sudah dilakukan sejak 2006. Pabrik PIM 1, yang ketika itu sudah berhenti beroperasi karena kekurangan pasokan gas, bisa kembali hidup setelah mendapat gas dari swap kargo LNG Bontang, Kalimantan Timur. Kondisi itu hanya bertahan enam bulan. Setelah itu pabrik terhenti kembali. Kemudian, April 2007, pabrik bisa beroperasi lagi karena swap gas dilanjutkan. Namun, sejak swap berakhir pada Oktober 2007, PIM berhenti beroperasi. Menyangkut pasokan gas pada 2009, Kardaya mengaku, pemerintah masih belum membahasnya dengan PIM. “Kita masih belum tahu untuk 2009 pasokan gasnya akan didapat dari mana,” jawab Kardaya.

Sementara itu, Presiden Direktur Medco E & P Indonesia Lukman Mahfoed menuturkan, negosiasi antara pihaknya dan PIM masih berlangsung. “Proyeknya baru mulai 2008, konstruksinya baru selesai 2010. Jadi, kita baru akan memasok untuk 2010 dengan volume 110 juta kaki kubik per hari (mmscfd).” Sebelumnya pemerintah sempat mempertimbangkan opsi impor untuk memenuhi pasokan gas PIM.

Menurut Deputi Menteri BUMN Roes Arjawidjaja, upaya impor gas tersebut bisa dari ,mana saja. “Pokoknya harga yang paling kompetitif,” ujarnya. Hal itu dikatakannya menanggapi surat Wakil Dirut Pertamina Iin Arifin Takhyan ke Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak da Gas Bumi (BPMIGAS) tertanggal 25 Oktober 2007. Dalam dokumen surat yang diperoleh wartawan itu disebutkan, pembeli dari Jepang Wilayah Timur (Tohoku Electric dan Tokyo Electric) serta Korea Gas (Kogas), Keberatan mengurangi volume pembelian gas alam cair (LNG) dari Kilang Arun antara tahun 2008 hingga 2009 untuk memenuhi kebutuhan PIM.