RI Kurangi Kiriman Gas ke Jepang

(Bisnis Indonesia, 13 Agustus 2007) - Akibat harus memenuhi kebutuhan gas PT. Pupuk Iskandar Muda (PIM) Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia memutuskan mengurangi jatah kiriman LNG (liqufied natural gas) untuk industri di Jepang sebanyak 12 kargo atau 1.440 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) periode 2008 – 2010.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menilai PIM lebih membutuhkan pasokan gas untuk mendukung kegiatan produksinya. Kurangnya pasokan ke industri pupuk itu, mendorong pemerintah menyiapkan tiga opsi untuk memenuhi kebutuhan gas.

“Ada tiga opsi. Tapi kami sudah memutuskan untuk mengurangi jatah kiriman LNG ke Jepang. Mereka (Jepang) sudah menyatakan bersedia jatahnya dikurangi,” katanya pekan lalu. Pasokan gas untuk PIM itu akan diambil dari kilang Arun yang dioperasikan Exxon Mobile. Kilang itu sebelumnya telah memiliki komitmen rata-rata 76 kargo per tahunnya untuk memenuhi pasokan gas ke Jepang dan Korea Selatan. Dari enam kilang yang ada, sejauh ini hanya empat yang bisa beroperasi. Selain dari Arun, pasokan gas untuk kedua negara tersebut dipenuhi dari Kilang Bontang, Kalimantan Timur yang memiliki komitmen sebesar 378 kargo per tahun.

Sebelumnya, pemerintah juga pernah melakukan pembicaraan dengan pihak Jepang lantaran tertundanya pengiriman gas ke negara tersebut. Wakil Kepala Badan Pengaturan Hulu Migas (BP MIGAS) Abdul Muin menjelaskan, Indonesia perlu berhati-hati atas tertundanya pasokan gas ke Jepang. “Sebab sudah dua tahun ini kita memundurkan terus pengiriman ke Jepang. Secara hukum mereka (Jepang) bisa menuntut. Tapi Jepang tidak meminta kompensasi, karena mereka tahu posisi kita sedang sulit. Memang, selama ini pembicaraan terkait penundaan gas dilakukan secara sepihak,” jelasnya.