PIM dan KKA Dapat Pasokan Gas Arun

JAKARTA, Kompas - Pemerintah membuat langkah terobosan untuk menghidupkan industri pupuk dan kertas di Nanggroe Aceh Darussalam. Mulai tahun depan, sebagian gas alam cair dari Kilang Arun dialihkan untuk memasok PT Pupuk Iskandar Muda dan PT Kertas Kraft Aceh.

Hal itu diputuskan pekan lalu di Medan, Sumatera Utara, melalui rapat koordinasi antara Kantor Menko Perekonomian, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dan Departemen Perindustrian. Kepala Divisi Pemasaran Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas Budi Indianto, Minggu (12/8), mengemukakan, mulai tahun 2008 sampai 2010 Kilang Arun akan memasok gas sebesar 110 juta kaki kubik per hari ke PIM dan 10 juta kaki kubik perhari (MMSCFD)ke KKA, Jumlah itu setara dengan 12 kargo gas alam cair. "Ini solusi jangka menengah dengan harapan pada pertengahan 2010 gas dari Blok A dan lapangan Krueng Mane sudah berproduksi," kata Budi.

PT PIM mengoperasikan dua pabrik, yaitu PIM 1 dan PIM 2, yang masing-masing memiliki kapasitas produksi 1.750 ton urea per hari. Karena tidak mendapat pasokan gas, kedua pabrik sempat berhenti beroperasi pada tahun 2005. Tahun 2006, PIM 1 kembali hidup setelah mendapat gas dari pangalihan (swap) kargo LNG Bontang Kalimantan Timur. Namun, kondisi itu hanya bertahan enam bulan, Kemudian, April 2007, pabrik bisa beroperasi lagi karena swap gas dilanjutkan. Swap akan berakhir pada Oktober 2007. Untuk bisa beroperasi normal, PIM 1 dan PIM 2 butuh gas sebanyak 110 MMSCFD. Kekurangannya makin besar.

Secara terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengemukakan, pengalihan sebagian pasokan gas dari Kilang Arun akan berakibat semakin bertambahnya kekurangan komitmen pasokan LNG. Namun, Purnomo menegaskan, pemerintah akan mengusahakan menutup kekurangan tersebut melalui penjadwalan ulang, pengalihan ke Kilang Bontang, ataupun mencari kargo LNG dari luar Indonesia.

Dari sisi harga, PIM dan KKA akan memperoleh harga gas domestik sebagaimana kesepakatan berbagai pihak. Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Eddy Putra Irawadi mengatakan, meskipun tidak sebesar nilai ekspor gas, implikasi berantai dari terus hidupnya industri manufaktur sangat luas bagi perekonomian daerah. PIM dan KKA adalah industri yang penting keberadaannya, terutama untuk mendorong kegiatan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja.

Wakil Presiden Exxon Mobil Indonesia Bidang Relasi Eksternal Maman Budiman mengatakan, pihaknya belum mendapat pemberitahuan dari pemerintah tentang pengalihan pasokan. Namun, ia memastikan EMOI akan menerima keputusan itu. "Ini kan sudah menjadi masalah nasional, jadi kami mengerti," ujar Maman (DOT)