Australia Investasi Gasifikasi - Kerja Sama Patungan Tunjukkan Tumbuhnya Minat Baru

Jakarta, kompas, Rabu, 27 Juni 2007 - Incitec Pivot Limited, perusahaan pembangun pabrik pupuk dari Australia, akan membangun pabrik gasifikasi batu bara bekerja sama dengan PT Pupuk Iskandar Muda dan PT Rekayasa Industri. Realisasi proyek tersebut akan meningkatkan investasi Australia di Indonesia.

Proyek gasifikasi batu bara itu diperkirakan menelan investasi 700 juta dollar AS sampai 800 juta dollar AS. Kesepakatan untuk melakukan studi kelayakan atas proyek tersebut ditandatangani oleh ketiga pihak, Selasa (26/6) di Jakarta.

Menteri Perdagangan Australia Warren Truss dan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil menyaksikan penandatanganan kesepakatan tersebut. Direktur Utama PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Azis Pasha mengatakan pabrik gasifikasi itu akan menyuplai kebutuhan bahan baku maupun bahan bakar untuk dua unit pabrik PT PIM.

Timbal baliknya, Incitec Pivot Limited memperoleh persediaan amonia dan urea. "Proyek ini diharapkan sudah bisa jalan setelah studi kelayakannya selesai pada tahun 2008," kata Azis. Dua unit pabrik pupuk yang dioperasikan oleh PT PIM itu masing-masing memproduksi sekitar 570.000 ton pupuk per tahun. Setiap unit pabrik memerlukan pasokan gas sekitar 50 juta kaki kubik per hari. PT PIM mengalami defisit pasokan gas sehingga produksi pabrik di bawah kapasitas.

Azis mengatakan, dengan keterbatasan kemampuan pasokan gas dari lapangan-lapangan migas yang ada di sekitar Lhok Seumawe, PT PIM harus mencari alternatif tambahan. Direktur Utama Rekayasa Industri Triharyo Susilo mengatakan studi awal menunjukkan bahwa harga gas sintetis bisa bersaing dengan harga gas bumi.


Patungan baru.

Sejumlah 35 pengusaha senior Australia menyertai kunjungan Warren Truss ke Indonesia. "Kami akan melihat lebih banyak investor Australia datang ke Indonesia, terutama dengan adanya UU Penanaman Modal yang baru dan UU Pertambangan yang akan datang. Begitu ada investasi baru, perdagangan (antara Indonesia dan Australia) juga akan meningkat," ujar Truss dalam suatu kesempatan wawancara. Sejumlah rencana bisnis patungan baru antara pengusaha Australia dan Indonesia disampaikan dalam rangkaian kunjungan itu. Cheetham Salt, anak perusahaan Ridley Corporation Limited, mendirikan fasilitas pengilangan garam baru di Pelabuhan Cigading, Cilegon, Banten, berkapasitas hingga 90.000 ton. Fasilitas baru senilai 2 juta dollar Australia itu ditargetkan selesai dibangun pada pertengahan tahun 2008. Sementara itu, perusahaan pertambangan Rio Tinto masih melanjutkan negosiasi dengan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan proyek nikel di Sulawesi. Proyek ini bernilai 2 miliar dollar AS.

Perusahaan pertambangan BHP Billiton yang juga turut serta dalam delegasi Menteri Perdagangan Australia menyatakan ketertarikan mengembangkan proyek nikel di Pulau Gag dan Halmahera Timur. Proyek itu merupakan kerja sama BHP Billiton dengan PT Aneka Tambang. Di bidang perbankan, PT Bank Commonwealth, anak perusahaan Commonwealth Bank of Australia (CBA) di Indonesia, saat ini sedang mengambil alih sebuah bank daerah di Surabaya, PT ANK. Langkah tersebut diyakini akan memperkuat sasaran strategis CBA untuk menjangkau sektor ritel dan usaha kecil menengah di Indonesia. Sementara itu, Airservices Australia, perusahaan penerbangan milik Pemerintah Australia, sedang menjajaki kemitraan dengan Pemerintah Indonesia untuk pengembangan layanan navigasi udara. (DAY/DOT)