Presiden: Produksi Gas Bisa Naik; Volume Gas Domestik Akan Lebih Besar Dari Ekspor

Kompas, Berita Utama, Kamis, 22 Maret 2007 . Subang, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan produksi gas bumi dalam tiga tahun mendatang, masih bisa ditingkatkan sampai 30 persen dari total produksi gas bumi saat ini.

Seiring produksi yang semakin meningkat, Presiden menjanjikan volume gas domestik akan lebih besar dari ekspor. Presiden Yudhoyono menyatakan hal tersebut ketika memberikan sambutan pada acara peresmian proyek-proyek minyak dan gas (migas) dan penandatangan kontrak migas energi dan sumber daya mineral (ESDM) di lokasi Sumur Pemboran Migas SBG-17, Desa Cidahu, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (21/3).

Dalam acara itu, Presiden Yudhoyono didampingi sejumlah menteri di antaranya Menko Perekonomian Boediono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menneg BUMN Sugiharto serta Dirut PLN Eddie Widhiono dan Dirut Pertamina Ari Soemarno.

Menurut Presiden Yudhoyono, masih ada ruang peningkatan produksi dari sejumlah potensi gas bumi di daerah lainnya di Indonesia. Produksi gas bumi Indonesia, kata Presiden Yudhoyono, saat ini mencapai 8-9 miliar kaki kubik per hari. "Lebih dari setengahnya dipasarkan ke luar negeri. Pada tahun 2010, produksi gas bumi sekitar 10 miliar kaki kubik per hari. Volume gas yang dipasarkan ke dalam negeri akan lebih besar lagi daripada yang diekspor," jelas Presiden.

Di sisi lain, papar Presiden Yudhoyono, kebutuhan gas dalam negeri pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 15 miliar kaki kubik sehingga diperlukan ladang gas bumi baru. Karena itu harus dikembangkan di daerah-daerah yang memang mempunyai potensi yang besar. "Akan tetapi, ladang gas bumi baru itu membutuhkan investasi yang besar. Inilah yang menjadi kendala. Sebab itu, Kepala Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM) Mohammad_Lutfie harus bekerja siang dan malam untuk meningkatkan investasi lebih besar lagi," tandas Presiden.

Sementara itu, peningkatan target produksi minyak sampai sebesar 30 persen dalam waktu waktu yang sama, diperkirakan sangat kecil terjadi. Ini disebabkan karena potensi minyak mulai berkurang. "Kalau minyaknya mungkin punya keterbatasan untuk peningkatan. Akan tetapi gas buminya masih mempunyai ruang untuk ditingkatkan lebih luas lagi mencapai target 30 persen. Namun, untuk memenuhi target itu, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh, terencana dan terpadu. Kita harus menyadari bahwa produksi migas kita, dihasilkan dari lapangan-lapangan yang sudah cukup tua dan dengan cadangan yang semakin berkurang," ujar Presiden.

Dalam dua tahun terakhir ini, telah ditawarkan lebih dari 30 lapangan minyak bumi. "Kita telah menetapkan pengelolaan lapangan minyak Cepu. Kita harapkan, lapangan minyak Cepu ini dapat beroperasi tahun 2008 dan secara bertahap dapat menghasilkan tambahan produksi sekitar 300.000 barrel per hari," jelas Presiden.

Diakui Presiden, selama dua tahun terakhir produksi minyak bumi hanya sebesar satu juta barrel per hari. Padahal, untuk pertumbuhan ekonomi, diperlukan sedikitnya 1,3 juta barrel. Kemarin, Presiden menyaksikan tujuh kesepakatan penyaluran gas dengan total volume mencapai 471,28 triliun british thermal unit (TBTU) senilai 1,614 miliar dollar AS. Di antara kesepakatan itu, pasokan gas dari Pertamina untuk Pabrik Pupuk Kujang, dan PT Pupuk Sriwidjaja, dan Medco E&P Malaka untuk PT Pupuk Iskandar Muda. Sedianya, kemarin dilakukan juga penandatanganan kontrak jual beli gas dari sejumlah lapangan Pertamina untuk pasokan PLN dan industri di wilayah Jawa Barat, namun dibatalkan karena belum mendapat persetujuan dari komisaris. (HAR/DOT)