Dirut PT PIM: Pabrik Mati karena Gas Terhenti

BANDA ACEH (Serambi Indonesia, 16-09-05) - Direktur Utama PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Hidayat Nyakman, kemarin menegaskan, terhentinya operasional PT PIM murni karena terhentinya pasokan gas ke pabrik itu. “Detik ini mendapat gas, detik ini juga kita akan berproduksi,” tandas Hidayat.

Penegasan Hidayat itu dilontarkan, menanggapi pernyataan Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, (BPMIGAS), Kardaya Wardika, sehari sebelumnya yang mengemukakan, terhentinya produksi pupuk PT PIM di Aceh disebabkan adanya perbaikan pipa “orifice” (ORF), dan bukan karena ketiadaan pasokan gas. Sebelumnya pihak PT PIM melalui humasnya juga mengungkapkan bahwa terhentinya operasional mesin PT PIM itu adalah karena pasokan gas terhenti. Penghentian pasokan itu terhitung sejak tanggal 8 Agustus 2005. Kala itu pihak ExxonMobil berjanji penghentian itu hanya berlangsung selama satu hari. Namun hingga kini operasional mesin itu tetap terhenti. Akibatnya memunculkan spekulasi dan keresahan di kalangan karyawan. Hidayat secara tersirat membantah adanya perbaikan pipa orifice yang membuat gagalnya pasokan gas. Menurutnya, perbaikan ataupun kerusakan yang ada di PIM tidak berdampak pada terhambatnya pasokan gas. Dengan kata lain, jika ada gas pabrik bisa langsung jalan atau beroperasi. “Kapan saja mendapat pasokan gas, PIM siap memproduksi pupuk,” tandasnya.


# Pupuk cukup #

Pada sisi lain Hidayat menambahkan, meski PT PIM tidak lagi berproduksi, tetapi kebutuhan pupuk di Aceh dan Sumatera Utara tetap terpenuhi. Kebutuhan pupuk untuk kedua daerah ini hingga dua tahun ke depan tetap akan dipasok oleh PT Pupuk Sriwijaya, Palembang. Sementara PT PIM akan memproduksi pupuk untuk tujuanm ekspor. Menurutnya kebutuhan pupuk urea di Aceh sekitar 5.000 ton per bulan. Dikatakan Hidayat, sesuai komitmen pemerintah, ke depan pupuk yang dihasilkan PIM tidak lagi untuk dipasarkan di dalam negeri, tetapi hanya untuk tujuan ekspor. Hal ini terjadi karena harga gas yang akan dibeli PIM dari ExxonMobil adalah harga ekspor yang mencapai 10-12 dolar per MMTBU (Million Metrik British Thermal Unit). “Kalau dipasarkan dalam negeri, sangat besar subsidi yang ditanggung pemerintah,” katanya. Digambarkannya, harga pupuk di luar negeri mencapai 2-3 kali lipat dibanding dalam negeri. Saat ini, pada tingkat distributor, harga pupuk dalam negeri Rp 1.050 per kg. Sementara di luar negeri (jika dirupiahkan) mencapai Rp 2.500 per kg. Ditanya mengapa pabrik pupuk lain, seperti PT Pusri dan PT Pupuk Kaltim bisa menjual pupuk seharga Rp 1.050 per kg, Hidayat mengatakan, karena perusahaan itu mendapat pasokan gas dengan harga relatif rendah. “Harga gas yang mereka beli adalah harga subsidi, sekitar 4-5 dolar per MMBTU.


# Krisis pupuk #

Sementara itu pantauan Serambi kemarin ke sejumlah distributor pupuk di Aceh Besar, semua distributor kehabisan pupuk. Meski demikian, karena saat ini petani padi sedang tidak menggunakan urea, tidak menjadi masalah. “Saat ini sebagian besar lahan sedang dilakukan panen padi, sehingga tidak dibutuhkan lagi pupuk,” ujar Amir Mahmud, distributor pupuk di Lambaro. Beberapa waktu lalu, ketika padi berusia muda, ketersediaan pupuk di daerah ini tidak mencukupi. Akibatnya banyak lahan yang tidak dilakukan pemupukan. Akibatnya, produksi padi di daerah ini anjlok hingga 30 persen. Sebelumnya produksi padi mencapai 4,7 ton per hektar, sekarang tinggal 3,5 - 4,2 ton saja.(usb)