Industri: Exxon Kembali Pasok Gas Untuk PIM

JAKARTA (Media,05-09-05): PT Exxon Mobil Oil Indonesia bersedia memperpanjang pasokan gas alam untuk PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Lhok Seumawe, Aceh. Untuk itu, Exxon sudah melayangkan surat tentang batas akhir pasokan gas alam kepada PT PIM dengan batas waktu terakhir untuk produksi hingga 8 September 2005 dan untuk perawatan hingga 11 September 2005. Namun, hingga kini pemerintah belum memutuskan apakah pasokan gas alam untuk PIM dari ladang migas Exxon di Lhok Sukon, Aceh. itu bisa diperpanjang atau tidak.

"Hingga kemarin saya belum mendapat informasi dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Pengatur Hulu (BP) Migas tentang kelangsungan pasokan gas," kata Dirut PT PIM Hidayat Nyakman di Jakarta, kemarin. Dia hanya mendapat undangan untuk rapat membahas masalah kelangsungan pasokan gas alam tersebut Selasa (6/9) di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian. "Masalah pasokan gas alam untuk PIM kini semakin kompleks karena melambungnya harga gas alam di pasar internasional yang mengikuti perkembangan harga minyak mentah. Untuk itu, kami hanya berharap pemerintah segera memutuskan pasokan gas alam kepada PT PIM yang merupakan satu-satunya industri yang masih hidup untuk kelangsungan perekonomian rakyat Lhok Seumawe," ujar Hidayat.

Hidayat menjelaskan, PIM sendiri bersedia membayar sebesar US$5,5 per million metric british thermal unit (MMBTU) untuk gas alam dari Exxon, minimal dua kargo (enam juta MMBTU). Gas alam sebanyak itu akan dipergunakan sebagai bahan baku produksi hingga akhir tahun. Dia berharap, bersedianya pihak Exxon untuk mengalokasikan gas alam minimal dua kargo untuk PT PIM ditindaklanjuti oleh pemerintah. "Jadi, masalah kelangsungan pasokan gas alam untuk PIM ini tergantung pemerintah. Exxon sendiri sudah bersedia mengalokasikan gas alamnya," ungkap Hidayat.

Seperti diketahui, pasokan gas alam yang akan berakhir 6 September 2005 nanti itu merupakan perpanjangan pasokan gas alam terakhir dari Exxon. Sebenarnya, kontrak pasokan gas alam untuk PIM berakhir Juni 2005, namun diperpanjang sebanyak satu kargo berdasarkan permintaan pemerintah kepada Exxon. Exxon bersedia memasok gas alam untuk PT PIM asalkan pemerintah mau mengganti gas alam yang diberikan untuk PIM. Hal ini dikarenakan seluruh gas alam Exxon harus diekspor ke Korea Selatan setelah diproses menjadi gas alam cair terlebih dulu di PT Arun. Namun, berdasarkan informasi terakhir, pihak Korean Gas (Kogas), importir gas alam dari Korea Selatan, itu bersedia menjadwal ulang (rescheduling) impor gas alam cair dari Indonesia yang akan berakhir 2008. Kogas sendiri sudah mempunyai cadangan gas alam cair impor dari Nigeria. (Faw/E-2)