PIM Dapatkan Komitmen Suplai Gas dari Qatar

JAKARTA -MIOL, 24-07-05: PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) telah mendapat komitmen suplai gas 12 kargo untuk kebutuhan dua tahun ke depan, yang berasal dari dua perusahaan gas Qatar, yaitu Qatar Gas dan Ras Gas. Hal ini disampaikan oleh Menteri Negara BUMN Sugiharto, dan Direktur Utama PIM, Hidayat Nyakman, di sela acara "Peresmian pelatihan bagi pemuda Aceh," oleh Yayasan Ibadatullah Baznaz Madani (IBM), di Bekasi, Minggu.

"Ada indikasi kuat gasnya ada, namun diperlukan kecepatan dan ketepatan waktu untuk memutuskan membeli gas dengan jumlah yang signifikan," kata Sugiharto. Untuk itu Sugiharto akan segera meminta tim negosiasi Pertamina dan Badan Pelaksana (BP) Migas, untuk menindaklanjuti. "Tim itu untuk memastikan kita mendapat pasokan gas PIM pada 2006-2007, dan bisa segera dipenuhi." Menurut Sugiharto, mengenai pendanaannya, Kementerian BUMN akan membicarakannya dengan Menteri Keuangan. "Sekarang ini tetap diambil dari rekening khusus Menkeu, dan itu sudah berjalan, dan disetujui oleh Menkeu," kata Sugiharto. Sugiharto juga mennyatakan alasan pemilihan pasokan dari Qatar, karena negara tersebut memberikan harga yang lebih kompetitif dibandingkan harga di pasar internasional. "Selama ini Qatar menjual ke Jepang dan Korea pada harga di bawah US$6 per mmbtu. Sementara di pasar internasional sudah mencapai US$7," kata Sugiharto. Ditambahkan, saat ini peminat suplai gas dari Qatar sangat banyak. Setidaknya sudah ada 32 calon pembeli yang siap membeli dari pasar spot. Menurut dia, pemerintah telah memutuskan PIM tetap terus beroperasi. Karenanya, pemerintah berupaya mencarikan pasokan gas bagi PIM sebagai pengganti pasokan gas dari ladang gas Arun.

Sementara Direktur Utama PIM Hidayat Nyakman menambahkan, komitmen itu harus ditindaklanjuti secara terus menerus. "Kalau tidak di follow up itu bisa lepas," katanya. Ia menambahkan berdasarkan hasil kunjungannya ke Qatar, memang menunjukkan harga penawaran yang lebih murah. "Kami memilih Timur Tengah khususnya Qatar, karena memang lebih murah. Harga kontrak untuk suplai minimum 2 tahun harus kita akui lebih bagus," katanya. Selain Qatar, Hidayat juga menjajaki kemungkinan mendapat suplai gas dari Oman, dan Uni Emirat Arab. Namun, Hidayat tidak merinci hasil kunjungannya di dua negara itu. Ia mengatakan kebutuhan gas untuk satu pabrik dalam satu tahun sekitar 6 kargo. Karena itu untuk suplai selama dua tahun bagi pabrik PIM 2 dibutuhkan 12 kargo. "Itu bisa kita gunakan sampai 2008," katanya.

Sementara ini, menurut Hidayat, komitmen 12 kargo itu akan digunakan untuk PIM 2. "Untuk PIM 1 akan kami usahakan lagi," katanya. Komitmen pemerintah untuk mencarikan pasokan gas telah diungkapkan oleh Menteri Negara BUMN Sugiharto sejak beberapa waktu lalu. Karena pemerintah memperkirakan tahun 2008 suplai gas PIM dapat dipenuhi dari blok A yang sudah mulai beroperasi. Untuk sementara suplai gas untuk PIM dalam dua bulan ini aman. "Suplai gas PIM dari ExxonMobile Oil sedang dicarikan gantinya. Dalam waktu dekat ini, kami berencana ke Qatar dan Oman, untuk mencarikan suplai gas permanen bagi PIM. Tidak hanya 1 atau 2 kargo saja tapi permanen sampai 2008," kata Sugihatro.

Sugiharto menambahkan, Sidang Kabinet telah memutukan PIM I dan PIM II terus beroperasi. Kedua pabrik tersebut tidak boleh dimatikan, dan usahanya tetap dilanjutkan. Pemerintah telah memberikan jaminan kepada PT ExxonMobile Oil Indonesia, untuk menjamin pasokan gas bagi PIM. "Kami berempat, yaitu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Menteri Negara BUMN, atas nama pemerintah telah memberikan tanda tangan sebagai jaminan," kata Sugiharto. Pemerintah melalui sidang kabinet terbatas yang dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla, memutuskan PIM harus tetap beroperasi. Pertamina dan Badan Pelaksana (BP) Migas diminta mencarikan pasokan satu kargo gas untuk PIM. Hidayat meminta pemerintah juga menanggung selisih harga gas. Menurut dia, PIM hanya mampu membeli dengan harga US$6,55 per mmbtu. Sedangkan harga pasar gas per mmbtu sebesar US$7. (sam/OL-03)- Penulis: Syamsul Azhar