Terhentinya Pasokan Gas ke PT PIM Bisa Berdampak Pada Perbankan

Jakarta, Kompas, 14 Juni 05 - Masalah pasokan gas ke pabrik PT Pupuk Iskandar Muda II dinilai tidak hanya mengancam produksi pupuk, melainkan juga mengancam kinerja perbankan dalam negeri. Karena dana pembangunan proyek PT PIM II diperoleh dari sindikasi bank dalam negeri sebesar Rp 1 triliun dan utang luar negeri sebanyak 190 juta dollar AS.

"Dana pembangunan pabrik PIM II (Pupuk Iskandar Muda II-Red) dari perbankan di dalam negeri sekitar Rp 1 triliun dan utang luar negeri. Kalau pasokan gas tidak ada, bagaimana pinjaman perbankan itu dapat dibayar," kata Anggota Komisi XI, Vera Febyanthy, dalam Rapat Gabungan Menko Perekonomian, para menteri ekonomi terkait, dan beberapa Komisi DPR Jakarta, Senin (13/6). Oleh karena itu, menurut Vera, pemerintah perlu memikirkan bagaimana PT PIM II dapat tetap beroperasi dan mendapat pasokan gas. "Kalau tidak, dampaknya akan besar. Selain masalah tenaga kerja, perbankan juga akan terkena imbasnya," katanya. Vera juga mempertanyakan mengapa pabrik PT PIM II bisa dibangun dengan pinjaman perbankan di dalam negeri maupun di luar negeri. Padahal, sejak awal sebenarnya masalah pasokan gas sudah dapat diketahui apakah dapat memenuhi seluruh kebutuhan pabrik itu atau tidak. Sementara itu, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie mengungkapkan, pasokan gas untuk pabrik PT PIM II sampai saat ini tidak menjadi persoalan. "PIM kan bisa mengekspor seluruh pupuknya," katanya. Dengan demikian, lanjut Aburizal, PT PIM bisa membeli gas sesuai harga pasar internasional dari pasar spot. Ia menambahkan, jika PT PIM mengekspor pupuk, suplai pupuk untuk Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara dapat dipasok PT Pupuk Sriwijaya dan PT Pupuk Kalimantan Timur.


# Pinjaman #

Direktur Utama PT PIM Hidayat Nyakman yang dihubungi mengakui pinjaman untuk pabrik PT PIM II dari perbankan nasional sebesar itu. "Ada tiga bank, yaitu BNI, Bank Mandiri, dan BRI," katanya. Selain itu, pinjaman dari luar negeri mencapai 190 juta dollar AS. Apabila pabrik PIM II tidak mendapat suplai gas, perusahaan tidak mampu membayar pinjaman tersebut. "Kalau tidak mendapat suplai gas, biaya-biaya yang harus kita tanggung sangat besar, seperti membayar bunga dan pinjaman pokok, termasuk biaya tanggungan kepada karyawan," kata Hidayat. Ditanya soal kemungkinan pembelian gas dari pasar spot, menurut Hidayat, hal itu bisa saja dilakukan jika harga ekspor pupuk tinggi. "Kalau harga ekspor pupuk 275 dollar AS per ton, itu berarti harga gas sebesar enam dollar AS per MMBTU. Jadi, kemungkinan kita masih bisa berproduksi dan membayar pinjaman," katanya. Akan tetapi, jika harga ekspor pupuk turun tajam, PT PIM kesulitan bisa membayar kewajiban pinjaman untuk membangun PIM II, termasuk menutup biaya produksi. "Biaya produksi itu tidak hanya gas, melainkan bahan baku, termasuk biaya karyawan," ujar Hidayat menjelaskan. (FER/BOY/OTW)