Tak Ada Anggaran Beli LNG

Jakarta, 28-Mei-2005, Kompas - Pemerintah menegaskan, tidak menganggarkan dana untuk pembelian gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang akan digunakan untuk keperluan swap (pengganti) ekspor gas alam agar PT Pupuk Iskandar Muda tetap mendapat pasokan dari lapangan gas Arun di Nanggroe Aceh Darussalam.

Jadi, pembelian beberapa kargo LNG yang telah dilakukan bulan lalu diperkirakan menggunakan dana subsidi bahan bakar minyak yang telah dicairkan oleh Departemen Keuangan (Depkeu) kepada PT Pertamina. Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Depkeu Mulia P Nasution mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Jumat (27/5).

Pihak Depkeu tidak menyediakan secara khusus pos anggaran untuk pendanaan pembelian LNG. Mulia menegaskan, penggunaan dana subsidi BBM untuk membeli LNG di luar negeri itu perlu dipertanyakan karena Depkeu tidak menganggarkan pembelian gas alam cair tersebut. "Dana pemerintah yang dialokasikan ke Pertamina hanya untuk dana subsidi BBM kepada BUMN tersebut. Pemerintah tidak mengalokasikan anggaran khusus untuk pembelian gas alam cair guna mengganti gas alam yang digunakan PIM. Jadi, perlu dipertanyakan pembayaran LNG tersebut mungkin diambil dari dana subsidi BBM," kata Mulia. Menurut Mulia, hingga saat ini, pemerintah baru mencairkan dana subsidi sebesar Rp 7,3 triliun dalam dua tahap pencairan. Pemerintah juga belum menetapkan anggaran untuk pembelian gas alam cair tahun 2006, kemungkinan dengan dana subsidi juga. "Jadi, pemerintah tidak ada anggaran yang lain. Setahu saya tidak ada kucuran dari APBN," kata Mulia. Butuh banyak Sebelumnya, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (BP Migas) Kardaya Warnika mengatakan, pembelian LNG itu agar Pupuk Iskandar Muda (PIM) tetap beroperasi. Tahun 2005 dibutuhkan setidaknya 9 kargo LNG untuk menghidupkan PIM dan pada tahun 2006 dibutuhkan lagi 18 kargo LNG untuk PIM dan ASEAN Aceh Fertilizer (AAF). Pembelian LNG adalah opsi terburuk dari rencana pemerintah menghidupkan pabrik pupuk di Lhok Seumawe. Jika pembeli di luar negeri mau mengurangi permintaan LNG, Indonesia tak perlu mencari kargo LNG pengganti.(OIN/BOY)