Tahun 2006, Dibutuhkan 18 Kargo LNG untuk Pabrik Pupuk di NAD

Jakarta, 26 Mei 2005, Kompas - Indonesia dipastikan membutuhkan pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) sebanyak 18 kargo pada tahun 2006 agar dapat menghidupkan tiga pabrik pupuk yang ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tiga pabrik pupuk tersebut adalah Pupuk Iskandar Muda (PIM) 1, PIM 2, dan ASEAN Aceh Fertilizer (AAF). Demikian diutarakan Kepala BP Migas Kardaya Warnika, Rabu (25/5) di Jakarta.

Saat ini pihak Indonesia sedang menjajaki kemungkinan untuk membeli 18 kargo LNG dari Oman. LNG yang akan dibeli tersebut akan digunakan untuk pertukaran (swap) guna memenuhi komitmen Indonesia kepada konsumen di Korea Selatan dan Jepang pada tahun 2006. Langkah swap dilakukan karena gas yang berasal dari Lapangan Arun di Lhok Seumawe akan dialokasikan untuk kebutuhan gas tiga pabrik pupuk yang berada di Aceh. "Kita perkirakan setiap pabrik pupuk akan membutuhkan gas setara dengan 6 kargo per tahun. Dengan demikian, untuk tiga pabrik pupuk, kebutuhannya mencapai 18 kargo," ujar Kardaya. Menurut Kardaya, Oman sudah memberikan lampu hijau untuk memenuhi kebutuhan Indonesia sebanyak 18 kargo LNG pada tahun 2006. Komitmen Oman penting jika memang akhirnya Indonesia terpaksa membeli di pasar spot. Tetapi, rencana membeli sebanyak 18 kargo LNG untuk swap merupakan skenario terburuk guna menghidupkan semua pabrik pupuk di Aceh. Jika negara pembeli bersedia menunda dan menjadwal ulang pengiriman LNG, Indonesia tak perlu membeli dan tidak didenda oleh pihak Oman. Menyinggung pasokan gas alam dari sumber di dalam negeri pada tahun 2006, Kardaya mengatakan, Blok A di Aceh belum bisa berproduksi pada tahun itu. Sementara lapangan gas di Kalimantan juga belum mampu menggantikan pasokan dari lapangan gas Arun. Pasokan Juni Menyinggung pemenuhan kebutuhan gas alam untuk PIM pada bulan Juni 2005, Kardaya mengatakan Pertamina telah mendapatkan satu kargo LNG dari Oman. LNG tersebut akan dikirimkan ke pembeli di Jepang. Pembelian LNG tersebut untuk memenuhi komitmen ekspor karena pemerintah ingin menghidupkan pabrik PIM 1 dan PIM 2. Kebutuhan gas pabrik pupuk di Aceh membutuhkan sembilan kargo dari jatah gas alam yang direncanakan untuk ekspor ke Taiwan, Jepang, dan Korea. Sebenarnya pemerintah berharap tidak perlu membeli LNG di pasar spot karena optimistis mendapatkan pengurangan dan penjadwalan ulang pengiriman LNG kepada pembeli di Jepang dan Korea. Tetapi, ternyata permintaan pemerintah ditolak oleh pembeli di kedua negara tersebut. Blok A Pada saat ini pemerintah tengah mengupayakan agar ConocoPhilips segera melakukan eksplorasi pada Blok A sehingga sudah bisa berproduksi pada tahun 2008. Pihak pemerintah telah memberikan opsi kepada ConocoPhilips untuk mendapatkan porsi bagi hasil sebesar 48 persen dan pemerintah hanya mendapat 52 persen. Adapun kontrak pengelolaan lapangan gas yang berlaku selama ini sebesar 70 persen untuk pemerintah dan 30 persen untuk kontraktor. Bagi hasil pada Blok A berbeda karena lapangan tidak ekonomis jika memakai bagi hasil yang lazim. Hal itu karena lapangan marjinal, cadangan gas sedikit, dan gas mengandung sulfur tinggi sehingga membutuhkan biaya lebih tinggi untuk melakukan aktivitas eksplorasi dan eksploitasi. Sementara mengenai harga gas yang nanti dihasilkan dari Blok A, pihak ConocoPhilips menawarkan harga gas sebesar 3,5 dollar AS per juta british thermal unit (MMBTU). Namun, pihak BP Migas meminta produsen gas bernegosiasi langsung kepada calon pembeli. Sekaligus meminta jaminan dari pembeli. (BOY)