Pola "Swap" untuk Efisiensi Pabrik Pupuk

Surabaya, 20-05-2005, Kompas - Perusahaan induk atau holding company produsen pupuk tengah mengkaji kemungkinan untuk melakukan pengalihan (swap) izin ekspor pupuk PT Pupuk Iskandar Muda untuk dilakukan oleh PT Pupuk Kaltim. Pola ini untuk membantu efisiensi penyaluran pupuk di dalam negeri.

Dengan demikian, produksi PIM bisa digunakan menutup kebutuhan pupuk urea di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, sedangkan produk PKT bisa dipakai ekspor dan tetap jadi hak milik PIM. "Artinya, hak ekspor itu tetap milik PIM. Kaltim hanya menjalankan. Hasil dari ekspor itu tetap jadi milik PIM dan hanya membayar komisi (fee) atau biaya administrasi proses ekspor tersebut," kata Direktur Utama PKT Omay K Wiraatmadja di sela- sela penandatangan MoU pelaksanaan tata kelola perusahaan PKT dan distributor pupuk bersubsidi di Surabaya, Jawa Timur, Kamis, (19/5).

Seluruh produsen bisa diuntungkan. Beban biaya pengiriman bisa ditekan sehingga risiko kerugian akibat beban biaya distribusi bisa ditekan. "Pola ini (swap) jauh lebih efisien dan menguntungkan. Sebab, proses negosiasi ekspor dan hasil penjualannya tetap untuk PIM," kata Omay.

Nantinya produksi PIM yang sudah mendapatkan kepastian dua kargo itu bisa dipakai untuk kebutuhan tanaman pangan di NAD dan Sumut secara tepat waktu. Dengan demikian, saat memasuki musim tanam, petani sudah memiliki pupuk.

Menurut Direktur Pemasaran PKT IB Agra Kusuma, swap ekspor pupuk urea granula PIM ke PKT lebih bersifat teknis dan menekan meningkatnya biaya distribusi. "Produk kita sama. Barangnya (untuk ekspor) dari PKT," kata Agra. Hal ini perlu ditegaskan agar jangan sampai salah persepsi seolah-olah swap itu menguntungkan PKT. Pola swap itu justru secara keseluruhan menguntungkan produsen pupuk nasional, tanpa mengorbankan kepentingan pasokan pupuk di dua wilayah tersebut. Dengan pola tadi, biaya produksi lebih efisien dan ada kepastian produksi karena pasokan gas PKT relatif lebih aman dari PIM. PKT sendiri dapat mengoptimalkan produksi urea granulanya dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun saat ini. PKT sendiri hanya menargetkan ekspor urea granula sekitar 550 ribu ton tahun ini dari total kapasitas produksi sekitar 1,2 juta ton. Kondisi itu karena urea granula yang dihasilkan PKT juga dipasok ke dalam negeri guna memenuhi pupuk urea bersubsidi. Sebab, PKT bertanggung jawab atas pasokan pupuk yang lebih luas mulai dari wilayah Indonesia timur dan Jawa Timur, kemudian ditambah NAD dan Sumut. Rencananya, PKT juga ditugasi memasok pupuk ke Jawa Barat sebanyak 60 ribu ton bila PT Pupuk Kujang kesulitan pasokan gas. (ast/hln)