Pupuk Iskandar Muda masih Mampu Berproduksi

LHOK SEUMAWE (Media Indonesia), 09-05-2005 PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) diyakini masih mampu berproduksi untuk memenuhi kebutuhan pupuk bagi petani. Dalam tiga tahun mendatang, PIM diproyeksikan mampu memproduksi 570 ribu ton urea pril, 570 ribu ton urea granular, dan 726 ribu ton amonia.

Selain meminta tidak menutup pabrik tersebut, PIM juga berharap pemerintah membantu pasokan gas untuk kebutuhan bahan baku perusahaan itu. ''Dengan jumlah produksi sebanyak itu, posisi tawar PIM dalam pasar ekspor urea menjadi makin kuat. Juga pemenuhan pupuk dalam negeri terjaga karena PIM konsentrasinya untuk kebutuhan dalam negeri,'' ujar Dirut PT PIM Hidayat Nyakman di kantornya di Lhok Seumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, akhir pekan lalu.

Menurutnya, memberikan pasokan gas kepada PIM jauh lebih baik dibandingkan menutup pabrik tersebut. Saat ini, PIM memang tengah kesulitan mendapatkan pasokan pupuk. Namun, dengan kapasitas produksi yang ada sekarang, PIM masih mampu menghasilkan produk yang bernilai tinggi. Untuk memberikan pasokan gas tersebut, pemerintah bisa melakukan sistem dropping cargo atau menjadwal ulang ekspor gas ke luar negeri untuk produk gas dari ExxonMobil Oil. Ini perlu dilakukan karena produksi gas nasional banyak tersedot ke luar negeri. ''Usulan ini sudah kita sampaikan ke Menteri BUMN.''

Jika dropping cargo dilakukan, jelas Hidayat, ExxonMobil harus mengurangi jatah untuk ekspor. Ini bisa dilakukan dengan cara, jadwal pengiriman diubah atau dijadwal ulang. ''Setiap tahun di bulan Oktober, mereka membuat perjanjian dengan pembeli di luar negeri bahwa tahun depan akan mengirim sekian. Itu saja yang dihitung ulang. Kita hanya butuh gas sebagai bahan baku pupuk itu rata-rata 50 BBTUD atau setara enam kargo setiap tahun.'' Kebutuhan sebanyak itu dinilai tidak akan sulit dipenuhi karena produksi gas di Aceh sangat jauh dari angka itu. Langan gas di Arun misalnya mampu memproduksi 12 juta ton LNG per tahun, atau setara dengan 200 kargo tiap tahun. Hidayat yakin dalam tiga tahun ke depan, PIM dapat berjalan normal. Sebab, pasar pupuk masih terbuka luas, bahkan kebutuhan dalam negeri saja belum terpenuhi. Apalagi jika dihitung dengan kebutuhan gas di pasar ASEAN. Dalam operasi normal, kapasitas satu pabrik PIM mencapai 48 ribu ton. Sementara, kebutuhan pupuk dalam negeri rata-rata mencapai 20 ribu hingga 25 ribu ton per bulan. Hidayat tetap optimistis, PIM akan mendapat pasokan gas dari pihak lain. Indikatornya, blok A PT Arun masih memiliki sumber gas baru.

Selain itu, ketergantungan Jepang kepada Indonesia juga akan berkurang jika proyek pipanisasi dari ladang gas di Rusia ke Jepang selesai. Pipanisasi ini akan memudahkan Jepang mendapat pasokan gas dari sumber lain. (Faw/HP/E-2)