Nasib Karyawan PT PIM Kini di Ujung Tanduk

Kompas, 02-05-2005, KERESAHAN karyawan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Lhok Seumawe, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), pecah segera setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Aburizal Bakrie di Jakarta mengemukakan pemerintah mempersiapkan sejumlah skenario termasuk skenario terburuk "mengistirahatkan" sementara PT PIM I dan PIM II selama tiga tahun, 2005-2008.

Penghentian sementara PIM selama tiga tahun, sebagaimana dikemukakan Aburizal Bakrie pekan lalu, artinya sama dengan mematikan pabrik itu sendiri. Meski pemerintah berjanji selama pabrik berhenti produksi, pemerintah berkomitmen menanggung gaji setiap karyawan dan karyawan tetap melakukan pemeliharaan terhadap kelangsungan pabrik itu. Para karyawan menilai janji itu sulit dilaksanakan. Dari segi teknis saja, PIM sepenuhnya mengandalkan pasokan listrik sebagai sumber daya pembangkit juga berasal dari bahan gas alam.

Bila persoalan penutupan sementara pabrik itu, akibat tidak ada lagi pasokan gas alam, tentu saja gas alam juga tidak masuk baik untuk produksi maupun bahan untuk mengerakkan mesin pembangkit listriknya. "Karyawan mau memelihara atau melakukan maintenance apa? Kalau gas alam macet, listrik macet. Komputer, pendingin udara, lampu juga mati. Kami tidak mungkin berada di pabrik tiap hari kepanasan tanpa ada pekerjaan," ujar Ketua Serikat Pekerja PT PIM H Nasrun, Kamis (28/4) di Lhok Seumawe.

Bagi karyawan, lonceng kematian pabrik pupuk itu tinggal menunggu waktu. Kasus non-aktifnya produksi pabrik pupuk ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) Plant sejak 2001, yang juga tak jauh dari PT PIM, mungkin terulang. Terlebih pernyataan keras Aburizal Bakrie bahwa pabrik lokal seharusnya bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa kucuran dana dari pemerintah seolah mendesak tamatnya riwayat PIM. BANYAK kalangan di NAD menilai kondisi PIM ibarat anak ayam kelimpungan di lumbung padi.

Ironis, pabrik PIM yang terletak 14 kilometer arah barat kota Lhok Seumawe itu bersebelahan dengan PT Arun, pengolah gas alam yang berasal dari ladang Gas Arun yang dioperasikan ExxonMobil. Gas alam itu disalurkan lewat pipa dari sumber ladang Gas Arun, sekitar 30 kilometer dari PT PIM. Jalur pipa gas yang melintasi kawasan pabrik PIM sebelum diekspor lewat pelabuhan PT Arun seolah mengejek pabrik itu. Potensi gas alam PT Arun saja bisa mencapai 12 juta ton LNG per tahun. Tentu menggiurkan kalau diekspor dengan harga jual 7 dollar AS per juta MMBTU, jauh lebih rendah dari harga beli PIM di bawah 3 dollar AS per juta MMBTU.

Kepala Biro Humas PIM Fachrulsyah menyatakan, nasib PIM hanya sampai Juni 2005. Pabrik PIM II telah dinon-aktifkan menyusul tidak ada lagi pasokan gas alam. Sedangkan PIM I masih aktif produksi karena ada jatah gas alam sebanyak tiga kargo yang cukup mendukung produksi hingga Juni 2005. Setelah Juni nanti, 1.200 karyawan, belum lagi karyawan lepas dan tenaga kerja yang selama ini menikmati hasil PIM yang jumlah total mencapai 4.000 orang lebih, harus bersiap-siap alih profesi jika tak ingin menganggur.

SEJAK PIM kesulitan produksi yang dirasakan mulai Maret 2005, masyarakat di Lhok Seumawe banyak yang terkaget-kaget. Mereka tidak menyangka pabrik pupuk besar itu, yang dulunya sangat tertutup termasuk untuk pers, bisa kolaps. "Kalau pabrik itu tutup, tentu karyawan tidak bingung. Selama ini sudah dikenal, karyawan PIM tangisan orang kaya," demikian seloroh masyarakat di sekitar pabrik PIM itu kebanyakan orang kaya. Kalau mereka kini resah dan menangis, itulah. Tetapi harus diakui, dampak sosial juga makin terbuka seandainya pemerintah memilih menutup sementara PIM sampai 2008.

Kepala Mukim Krueng Geukuh Dewantara H Abu Bakar Abbas mengemukakan, ada belasan desa di dua kecamatan di sekitar PIM yang penerangan listriknya dinikmati penduduk sepenuhnya berasal dari suplai generator PIM. Kalau generator tersebut mati karena tidak ada bahan baku gas alam, otomatis seluruh desa di kedua kecamatan itu gelap gulita. Tokoh masyarakat, Abu Bakar Abbas, bahkan mensinyalir penutupan pabrik seperti dialami PIM ini nyaris sama modusnya dengan kasus pabrik gula Cot Girek. Setelah pabrik gula itu ditutup karena alasan tidak ada bahan baku, maka pabrik itu dibongkar dan dipindahkan ke luar Lhok Seumawe. Kabarnya, PIM juga akan dibongkar dan dipindah ke Jateng. Camat Dewantara Ridwan AR justru mengingatkan pemerintah untuk mengkaji kembali kelangsungan PIM ini. Sebab, kalau pabrik ini ditutup, masyarakat sekitar akan semakin susah. Belum lagi akan muncul konflik sosial yang mengemuka setelah pascapenutupan pabrik. Gejolak sosial yang timbul, misalnya yang kabarnya sudah merebak adalah penghadangan kapal-kapal gas yang mengangkut hasil olahan Arun.

Beberapa karyawan PIM juga membantah anggapan masyarakat di luar pabrik yang menyatakan mereka bagian golongan orang kaya. Dari 1.200 karyawan PIM, hampir 80 persen adalah karyawan pelaksana yang gajinya juga tidak cukup besar untuk menjalani kehidupan di NAD. Kebanyakan karyawan yang asal daerah di NAD justru masih mengandalkan usaha pertanian warisan orangtua untuk menunjang pengeluaran hidupnya. Rustam Idris, operator mesin PIM, mengaku anaknya empat tetapi tunjangan dari perusahaan hanya tiga orang. Kalau mau jujur, gaji yang diterimanya hanya pas-pasan saja untuk hidup di Lhok Seumawe. Ya... kondisi di PIM semuanya kini tampaknya memang di ujung tanduk.(who