Dirut PT PIM : Penutupan PT PIM Akan Berdampak Luas

Jakarta, Kompas 26/04/05 - Direktur Utama PT Pupuk Iskandar Muda Hidayat Nyakman berharap jangan sampai pemerintah menggunakan skenario terburuk, yakni tutup sementara, sebagai keputusan akhir terhadap kemelut pabrik pupuk di Nanggroe Aceh Darussalam. Apabila tindakan itu yang diambil, pabrik akan mati selama tiga tahun dan dampaknya dirasakan perusahaan, negara, perbankan, dan masyarakat. Demikian dikatakan Direktur Utama PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Hidayat Nyakman menanggapi pernyataan Menko Perekonomian Aburizal Bakrie soal skenario penanganan pabrik pupuk tersebut, Senin (25/4) di Jakarta.

Menurut Hidayat, pihaknya betul-betul berharap agar pemerintah mengkaji semaksimal mungkin berbagai aspek soal PT PIM. Dengan pemahaman yang mendalam itu diharapkan pemerintah tidak menggunakan skenario terakhir sebagai keputusan akhir. Dengan demikian, semua pihak bisa diselamatkan. Pihaknya perlu menyampaikan harapan ini karena berdasarkan perhitungan, antara kehilangan pendapatan pemerintah dari penjualan liquified Natural Gas (LNG) ke Jepang atau Korea Selatan dibandingkan dengan penghentian pabrik pupuk selama tiga tahun, menunjukkan bahwa penjualan gas kepada pabrik pupuk jauh lebih menguntungkan. Apalagi jika keputusan tersebut dikaitkan pula dengan aspek sosial dan politik. Selain itu, jika betul pabrik ditutup karena tidak ada pasokan gas, pemerintah tetap saja harus menyediakan gas sebanyak 15 MMBTU per hari. Gas itu setara dengan 5,4 kargo LNG selama tiga tahun untuk menjaga terjadinya pencemaran lingkungan dari ammonia dan untuk keperluan lainnya.


- HILANGNYA KEPERCAYAAN -

Apabila pasokan gas dihentikan, PT PIM tidak dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada pihak ketiga. Hal ini berakibat hilangnya kepercayaan pihak ketiga atau mitra bisnis, lembaga keuangan, dan vendor terhadap kelangsungan usaha perusahaan. Padahal, kepercayaan dari Kontraktor Production Sharing (KPS) itu sangat diperlukan untuk menjamin adanya suplai gas jangka panjang pada masa mendatang. Selain itu, potensi terjadinya kredit macet. Belum lagi aspek psikologis masyarakat NAD yang belum pulih akibat adanya musibah gempa bumi dan tsunami. Bila pabrik ditutup, jelas akan menambah berat beban masyarakat yang semakin berat karena terputusnya mata rantai ekonomi mereka. Padahal, di industri itu tenaga kerja yang terlibat langsung sebanyak 1.200 orang. Tenaga tak langsung 2.500 orang, kontraktor 915 perusahaan, dan kios serta distributor sebanyak 919 perusahaan.


-- TIDAK MENCARI --

Secara terpisah, Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Ari Soemarno menegaskan, pihaknya tidak akan mencari satu kargo LNG jika pemerintah belum memastikan pembayarannya. Artinya, gas alam dari Lapangan Gas Arun pasti akan tetap diekspor. Pihaknya tidak akan memaksa pemerintah menyediakan dana pembelian satu kargo. Akan tetapi, dia memastikan pabrik pupuk tidak mendapat gas alam selama tak ada satu kargo LNG untuk dikirim ke pembeli. Karena itu, pihak pabrik pupuk harus meyakinkan pemerintah untuk mendapatkan gas alam. (ast/BOY)