Pembelian LNG Harus Cepat

Jakarta, Kompas, 15-04-05 - Pemerintah diminta cepat mengambil keputusan mengenai pembayaran pembelian satu kargo gas alam cair, atau liquefied natural gas, karena kondisi pasar hingga bulan Mei 2005 diperkirakan masih sangat ketat. Selain itu, apabila negosiasi pembelian segera dilakukan, Pertamina memiliki kesempatan lebih luas untuk mencari harga termurah. Demikian diutarakan Ketua Umum Asosiasi Gas Indonesia Anton Tjahjono, Kamis (14/4) di Jakarta.

Sebelumnya, Pertamina telah gagal mendapatkan satu kargo gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) untuk pengiriman kepada pembeli pada bulan April 2005 karena tidak mendapat izin membeli dari Departemen Keuangan. Anton mengatakan, Pertamina kemungkinan akan ditinggalkan lagi oleh calon pemasok LNG pada bulan Mei jika terlambat memberikan pernyataan siap membayar. Sebaliknya, jika Pertamina memulai negosiasi lebih awal dengan calon pemasok, terbuka peluang untuk mendapatkan harga yang termurah.

Menyinggung soal harga, Anton mengatakan bahwa harga tergantung negosiasi Pertamina. Tetapi, harga bisa saja melonjak dalam kondisi tertentu, misalnya salah satu kilang LNG meledak. Sebelumnya, Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Ari Soemarno menegaskan, Pertamina tidak memiliki kemampuan menalangi pembelian satu kargo LNG untuk memenuhi kontrak dengan pembeli di Jepang atau Korea Selatan. Karena itu, selama pemerintah tak bersedia menanggung pembayaran, Pertamina tidak akan membuat kesepakatan pembeli dengan pemasok LNG.

Masalah yang dihadapi Pertamina saat ini adalah soal biaya untuk membeli LNG di pasar spot. Apakah pemerintah cepat memutuskan menyetujui pembelian LNG di pasar spot. Sebab, tidak mungkin memakai uang Pertamina. Persoalan yang dihadapi terkait dengan dana karena harga LNG di pasar spot sangat tinggi. Menurut data, harga LNG di pasar saat ini mencapai sekitar 7 dollar AS per juta british thermal unit (MMBTU). Padahal, harga jual gas untuk pupuk sebesar 2 dollar AS lebih per MMBTU. Satu kargo LNG berisi 125.000 metrik ton (MT) dengan harga sekitar 24 juta dollar AS hingga 25 juta dollar AS.

Pertamina harus berunding Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang ditanya seusai sidang kabinet di Kantor Kepresidenan, Kompleks Istana, mengakui bahwa dari sembilan kargo yang sudah disepakati, satu kargo tidak bisa digunakan untuk Pupuk Iskandar Muda (PIM). Hal itu mengingat para pembeli LNG saat ini tengah membutuhkan gas sehingga satu kargo itu tidak mau dilepaskan untuk PIM.

Oleh sebab itu, menurut Purnomo, mengingat kontrak Pertamina dengan para pembeli gas, antara lain Jepang, Korsel dan Taiwan, menyebutkan seperti itu, maka Pertamina harus mencari pengganti untuk memasok gas bagi PIM. Ada dua pilihan. Pakai Model Oman atau pabrik pupuknya yang memang harus bayar. Kelihatannya yang feasible itu adalah Model Oman. Model Oman itu adalah gas yang ada di Qatar dikirim ke pembeli, sedangkan gas yang di Arun diberikan ke pabrik pupuk. Tetapi, akan ada selisih harga dan itu sudah masuk dalam perjanjian itu," ujar Purnomo.

Dikatakan Purnomo, selisih harga itu bisa diselesaikan dalam dua cara. Pertama, pemerintah tidak perlu mengutak- atik. "Cara kedua adalah pemerintah yang beli dengan uang kita sendiri. Akan tetapi, kalau kita yang beli, harus ada hitung-hitungan dengan ExxonMobil. Di situ ExxonMobil harus ada hitung-hitungan dengan pemerintah cq Menteri Keuangan," tambah Purnomo.

Purnomo mengatakan, kalau memang PIM mau diisi gasnya, Pertamina harus memutuskan cepat. "Kalau gagal, maka PIM tidak bisa memproduksi pupuk karena tidak ada yang memasok gas buat PIM," lanjut Purnomo. Harga minyak Harga minyak turun tajam pada perdagangan hari Rabu setelah tertekan oleh perkiraan stok bahan bakar Amerika Serikat yang akan meningkat tajam dan ramalan adanya penurunan dalam permintaan energi secara global. Kontrak pembelian minyak mentah light sweet di New York untuk pengiriman bulan Mei 2005 turun 1,16 dollar AS AS menjadi 50,70 dollar AS per barrel. Sementara di London, harga minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman bulan Mei turun 1,06 dollar AS menjadi 50,80 dollar AS per barrel. Harga minyak mentah di New York sudah merosot 13 persen dari rekor harga minyak tertinggi 58,28 dollar AS per barrel pada 4 April 2005. Pada waktu itu, harga minyak mentah Brent juga meroket ke tingkat harga tertinggi sebesar 57,65 dollar AS per barrel. "Pasar kaget dengan data stok bahan bakar Amerika Serikat. Oleh karena itu, saat ini merupakan sinyal untuk menjual, dan isyarat itu sudah datang saat ini," ujar Deborah White, analis pada Societe Generale. (AFP/har/inu/BOY)