PIM Siap Merger dengan AAF - * Perusahaan AS Siap Beli Aset AAF

JAKARTA (Serambi, 01-12-04) - Ada usulan menarik untuk menyelamatkan pabrik pupuk PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) dari kebangkrutan. AAF diusulkan digabung saja ke satu produsen pupuk lainnya di Aceh, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). “Dari hitung-hitungan ekonomis, memang pilihan paling baik untuk menyelamatkan AAF ya dimerger (digabung) saja dengan PIM,” kata Direktur Utama PT PIM, Hidayat Nyakman, di Jakarta, Selasa (30/11).

Langkah ini dinilai paling realistis untuk menghindari PHK terhadap sekitar 800 karyawan AAF sekaligus untuk menyelamatkan aset AAF agar tetap digunakan untuk berproduksi. Menurut Hidayat, manajemen PIM siap dan akan melakukan langkah antisipatif jika perusahaannya memang harus melebur dengan AAF. “Tapi jadi merger atau tidak, itu kan bukan kewenangan kami. (Itu) Sepenuhnya Bergantung pada keputusan pemerintah” ungkap Hidayat.

Usulan merger ini sebelumnya juga pernah disampaikan oleh Menteri Perindustrian Andung Nitimiharja. Dirut PT AAF Ir Rauf Purnama sendiri tak menolak jika perusahaannya harus diselamatkan dengan cara merger. “Namun, hal tersebut sepenuhnya bergantung pada keputusan yang diambil oleh para pemegang saham yang terdiri dari banyak negara anggota Asean,” ujar Rauf Purnama menjawab pertanyaan Serambi di Jakarta, kemarin.

Sebanyak 40 persen saham AAF dimiliki sejumlah negara pendiri Asean, seperti Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura. Sebanyak 60 persen lainnya dimiliki pemerintah Indonesia. Pendirian AAF dimaksudkan sebagai simbol solidaritas dan semangat kerjasama antarnegara anggota Asean untuk memajukan sektor pertanian.

Ditegaskannya, jika memang harus merger, konsekuensinya saham minoritas (milik negara Asean di luar Indonesia) akan terdilusi atau terhapus jika mereka tidak menyuntikkan modal tambahan ke tubuh AAF. AAF saat ini sedang menanti nasib, apakah akan kembali bisa melanjutkan kegiatan produksi pupuk dengan aliran gas baru dengan jaminan pemerintah, merger dengan pabrik pupuk lain, atau justru harus ditutup total dan dijual seluruh aset-asetnya kepada pihak ketiga.

“Kalaupun nanti ada keputusan PHK, saya pikir baru bisa terjadi jika sudah ada keputusan yang diambil dalam RUPS oleh pemegang saham,” ungkap Rauf.

Disebutkannya, saat ini sudah ada sebuah perusahaan di Amerika Serikat (AS) yang menyatakan minatnya membeli aset AAF, jika kelak aset AAF memang akan dilego. “Barusan saya tadi terima sebuah SMS dari AS, tawaran membeli bekas pabrik kita,” bebernya.

Rauf juga menuturkan, dirinya mendengar kabar bahwa pekan ini sejumlah wakil karyawan aka berangkat ke Jakarta menemui Menneg BUMN Sugiharto dan DPR untuk mengadukan nasib mereka. “Saya harapkan ini bisa dihindari (jangan sampai terjadi). Sejauh ini, kita masih bisa memberikan gaji kepada karyawan dengan memanfaatkan dana dari laba kita selama tahun buku 2002 lalu,” tegas Rauf Purnama.(fin)