Pemerintah Jadwal Ulang Ekspor LNG

JAKARTA (Media Indonesia, 3 Nop 04): Pemerintah sedang menyiapkan opsi menghentikan operasi salah satu unit pabrik PT Pupuk Kaltim (PKT) dan menjadwal ulang ekspor gas alam cair (LNG) untuk dialihkan ke industri pupuk dalam negeri, yang masih kesulitan mendapatkan pasokan gas.

Menteri Perindustrian (Menperin) Andung Nitimihardja di Jakarta, kemarin mengungkapkan, pihaknya baru-baru ini telah melakukan pertemuan dengan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (BP) Migas, PT ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) dan produsen pupuk lainnya.

Dari hasil pertemuan tersebut pemerintah menyiapkan sejumlah opsi agar pasokan gas ke industri pupuk tetap terjaga, meski cadangan gas saat ini memang berkurang. Opsi pertama, yang dihasilkan pertemuan tersebut adalah melakukan reschedulling (penjadwalan ulang) ekspor LNG dari Arun, sehingga stok yang ada bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pabrik pupuk di Aceh yakni PT AAF dan PT PIM (Pupuk Iskandar Muda). Opsi kedua, melakukan swap (pengalihan) sebagian kontrak ekspor LNG dari Arun, Aceh ke Bontang, Kaltim. Kemudian langkah lainnya adalah menghentikan operasi dari lima unit pabrik PKT untuk memenuhi kebutuhan swap tersebut.

Menyikapi soal permintaan kontraktor migas yang tetap meminta harga jual gas kepada pabrik pupuk sesuai harga internasional, Andung meminta seluruh pihak untuk mengutamakan kepentingan nasional. "Yang jelas kami akan mengupayakan soal harga jual gas itu, karena kami masih akan terus melakukan pertemuan dengan pihak terkait," janji Andung. Sebelumnya, industri pupuk mengeluhkan ketidakpastian pasok gas dari produsen migas karena minimnya cadangan gas, infrastruktur dan tingginya harga jual dari produsen gas.

Sejumlah kontraktor production sharing (KPS) telah meminta kenaikan harga gas untuk perpanjangan kontrak jual beli gas produsen pupuk, menyusul tingginya harga minyak dunia akhir-akhir ini. Sebagai contoh, PT Pertamina meminta harga gas baru untuk kontrak PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) setelah 2007 sebesar US$2,3 per milion metric british thermal unit (MMBTU). Padahal sebelumnya harga gas bumi Pertamina ke Pusri dilepas dengan harga US$1,85/MMBTU untuk Pusri II, III dam IV. Sedangkan untuk pasok gas untuk Pusri IB dihargai US$1,5/MMBTU. Untuk itu, kalangan industri pupuk mendesak pemerintah untuk memberikan jaminan pasokan gas bagi mereka dan harga gas untuk bahan baku urea. Sebab, jika masalah ini terus berlarut-larut akan mengganggu ketahanan pangan nasional.


# Stok pupuk #

Meski kondisi pasokan gas belum menentu, Dirjen Industri Kimia Agro dan Hasil Hutan (IKAHH) Deperin Benny Wahyudi menjamin stok pupuk urea untuk musim tanam (MT) 2004/2005 aman. Diharapkan dengan kondisi stok tersebut, tidak ada kesulitan petani untuk memperoleh pupuk, kelangkaan maupun kenaikan harga. "Secara umum stok pupuk yang ada di pabrik dan pasaran sudah mampu memenuhi kebutuhan selama 20 hari ke depan," kata Benny.

Lebih lanjut, Benny mengatakan, untuk mengamankan stok urea jika sewaktu-waktu terjadi kelangkaan di lapangan produsen pupuk juga sudah menyatakan komitmennya untuk mengurangi, bahkan menghentikan ekspor agar kebutuhan di dalam negeri mencukupi.

Berdasarkan catatan Deperin, rencana produksi pupuk Oktober-Desember 2004 oleh produsen pupuk mencapai 1.537.855 ton. Dengan stok awal Oktober di pabrik sebesar 134.262 ton maka total pengadaan tercatat 1.672.117 ton. Di samping itu, dengan rencana pengadaan ke pertanian dan nonpertanian sebesar 1.566.578 ton, maka stok akhir Desember 2004 di pabrik akan mencapai 105.539 ton. Sedangkan untuk stok di lapangan yang beredar di lini II (provinsi) dan III (pelabuhan) pada awal Oktober 2004 sebesar 474.555 ton dan pengadaan selama Oktober-Desember 2004 sebesar 1.247.330 ton dan penjualan sebesar 1.435.473 ton. Dengan kondisi tersebut, maka stok akhir Desember 2004 diperhitungkan akan mencapai 286.412 ton.

Lebih jauh, Benny mengatakan, rencana produksi pupuk selama Januari-Maret 2005 sebesar 1.441.902 ton dan dengan stok awal Januari 2005 sebesar 105.539 ton dan pengadaan ke sektor pertanian maupun nonpertanian sebesar 1.315.500 ton. Sehingga stok akhir Maret 2005 di pabrik akan mencapai 231.941 ton. Dengan stok awal Januari 2005 sebesar 286.412 ton dan pengadaan selama Januari-Maret 2005 sebesar 1.159.000 ton, serta penjualan 1.252.030 ton, maka stok akhir Maret 2005 diperhitungkan mencapai 193.382 ton. "Jumlah stok di lapangan tersebut, diperhitungkan masih cukup aman mengingat kebutuhan bulan April biasanya mulai turun," katanya. (Wis/E-6)