Menggabung PIM-AAF Sama Dengan Memadukan Orang Sakit * Rini Soewandi Tak Setuju AAF Ditutup

JAKARTA, (Serambi, 8-10-04) - PT PIM tak siap bergabung dengan PT Asean Aceh Fertilizer (PT AAF) yang ditutup pemerintah. Dirut PT PIM Hidayat Nyakman mengibaratkan penggabungan PIM-AAF sama dengan menggabung dua orang sakit.

Sementara itu, Menteri Perdagangan dan Industri, Rini MS Soewandi menyatakan tidak seharusnya PT AAF ditutup karena peran pabrik tersebut sangat strategis dan masih memiliki prospek bisnis. Hidayat Nyakman mengatakan, pihaknya belum mendapat pemberitahuan resmi dari pemerintah sehubungan dengan rencana penutupan PT AAF dan mengalihkan karyawannya ke PT PIM. “Saya terus terang sangat kaget dengan berita yang saya baca di media massa prihal penutupan AAF,” ujar Hidayat menjawab Serambi di Jakarta, Rabu (6/10).

Menurut Hidayat, beberapa waktu lalu pihaknya diminta pemerintah bersama-sama dengan Pusri untuk membentuk sebuah tim mencari solusi bagi kelangsungan PT AAF. Sedianya, tim tersebut akan mendalami tiga alternatif dalam menangani AAF, yakni relokasi pabrik ke luar NAD, melakukan merger dan likuidasi perusahaan. “Tapi anehnya, tim belum bekerja, tapi pemerintah kemduian mengeluarkan pengumuman akan menututp AAF,” tukas Hidayat Nyakman.

Menjawab pertanyaan tentang kemungkinan PT PIM menampung karyawan AAF, Hidayat mengatakan, keadaan PT PIM sendiri sedang “tidak sehat.” “Terus terang saya sendiri tidak paham dengan maksud tersebut. Soalnya belum ada pemberitahuan apapun soal ini,” ujar Hidayat yang menyatakan sangat menyesalkan tidakan pemerintah menutup AAF.

Secara terpisah mantan ketua tim Komisi III DPR RI yang melakukan monitoring terhadap proyek vital di NAD, Marzuki Daud menegaskan kebijakan pemerintah itu sangat tidak populer di mata rakyat Aceh. Marzuki juga minta perhatian jangan sampai alasan penutupan AAF dikaitkkan dengan kekalahan Megawati di NAD. “Saya kira jangan sampai dihubung-hubungkan ke sana. Karena kemenangan SBY di NAD murni keinginan rakyat Aceh yang menginginkan perubahan yang sejak awal menyampaikan konsep penyelesaian Aceh secara damai, adil dan bermartabat,” ujar Marzuki Daud.

Menyinggung tentang alasan pemerintah penutupan AAF karena pabrik yang tua, Marzuki Daud membantahnya. Sebab menurutnya, ada pabrik pupuk lain yang lebih tua dari AAF tapi tidak ditutup. Hidayat Nyakman juga mengatakan hal serupa. Ia mencontohkan pabrik-pabrik seperti Pupuk Kujang, Pupuk Kaltim, Pusri dan berusia diatas AAF. Marzuki Daud mendesak Presiden Megawati untuk segera mengubah keputusan penutupan PT AAF. “Masih ada waktu sepuluh hari lagi bagi Presiden Mega untuk mengubah putusan tersebut,” ujar Marzuki sembari mengatakan bahwa AAF dan proyek vital lainnya di NAD merupakan salah satu tulang punggung perekonomian rakyat di Aceh. Menurut Marzuki Daud, pemerintah seyogiayanya melakukan konsultasi dahulu dengan DPR sebelum memutuskan menutup pabrik tersebut.

Sebelumnya, Ketua DPR (ketika itu) Akbar Tanjung menyurati Presiden sampai dua kali berkaitan dengan pasokan gas untuk pabrik di Aceh. “Tapi agaknya surat itu tidak mendapat tanggapan yang baik dari pemerintah,” kata Marzuki yang memimpin tim monitoring ke AAF, PIM dan KKA.

Sementara itu Menperindag Rini MS Soewandi secara mengejutkan mengatakan tidak setuju penutupan AAF. menurut dia, AAF masih memiliki prospek bisnis. Rini Soewandi seperti dikutip salah satu media cetak Jakarta, beberapa kali sidang kabinet selalu menyampaikan bahwa AAF jangan ditutup karena akan menimbulkan dampak yang luas. AAF, katanya, berperan strategis dalam pemulihan ekonomi NAD, baik menyangkut penyerapan tenaga kerja maupun pengembangan lingkungan sekitarnya.

Kebutuan gas untuk pabrik pupuk di NAD, menurut Hidayat tidak terlalu besar. Tapi anehnya pemerintah tidak memperhatikan soal itu, melainkan lebih mementingkan ekspor. “Kalau saja pemerintah mau menjadwalkan ulang ekspor gas ke Jepang, saya kira persoalan akan selesai. Pabrik pupuk akan bisa hidup di Aceh sampai 20 tahun lagi,” kata Hidayat Nyakman.(fik)