Deperindag Tidak Setuju Penutupan Pabrik Pupuk PT AAF

JAKARTA (Media, 6-10-04): Departemen Perindustrian dan Perdagangan tidak setuju atas rencana penutupan pabrik pupuk PT Asean Aceh Fertilizer (AAF). Selain kehilangan potensi pendapatan dari ekspor pupuk, pemerintah juga akan kehilangan investasi yang mencapai US$300 juta.

Dirjen Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan (IKAHH) Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Benny Wahyudi menyayangkan keputusan penutupan AAF yang diambil pada rapat koordinasi terbatas bidang ekonomi kabinet Megawati Soekarnoputri Senin lalu (4/9). Alasannya, untuk membangun pabrik baru paling tidak dibutuhkan investasi baru dengan nilai yang tidak sedikit. Menurut Benny, secara ekonomis pabrik tersebut masih mendatangkan keuntungan. Keputusan penutupan justru mendatangkan persoalan yang lebih kompleks seperti pengangguran, investasi dan ekspor. "Mencari investasi baru itu sulit, kok ini ada investasi senilai US$300 juta malah dibunuh. Belum lagi dampaknya terhadap tenaga kerja. Sebaiknya keputusan semacam ini dipertimbangkan lagi," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Dirjen IKAHH ini berpendapat kondisi pabrik PT AAF masih mungkin berproduksi optimal sampai 2015 mendatang. Secara teknis, PT AAF sebenarnya masih menguntungkan. Ini tercermin dari laba bersih dan dividen yang berhasil diraih pada periode 1999-2002. Berdasarkan perhitungan kasar, tegas Benny, alasan menutup pabrik karena harus mengutamakan pasokan liquid natural gas (LNG) tujuan ekspor ke Jepang dan Korea Selatan adalah hal yang tidak bisa diterima.

Pemerintah dinilai tidak serius memperjuangkan suplai gas ke industri pupuk. Sebab, kontrak pembelian LNG oleh Korea sebetulnya habis 2004, tapi komitmen perpanjangannya sudah ditandatangani pada 2002. Padahal PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan PT AAF yang habis kontrak pengadaannya pada 2002 dan 2003 sudah negosiasi sejak 2000, namun tidak pernah berhasil. "Memang, pendapatan negara sekarang ini sangat tergantung pada ekspor gas. Sebab untuk minyak bumi sekarang ini kita sudah tidak surplus lagi, tapi kenapa harus berkorban lebih besar," ujar Benny.

Pemerintah seharusnya bisa melihat kerugian yang sangat besar apabila penutupan ini dilaksanakan. Kebijakan yang dibuat seharusnya mendukung terus beroperasinya PT AAF. Kebijakan tersebut dikeluarkan dengan mempertimbangkan dampak sosial yang timbul akibat penutupan tersebut. Desakan agar pemerintah berpikir ulang untuk menutup pabrik pupuk di NAD itu juga dilontarkan Direktur Utama PT AAF Rauf Purnama. Menurutnya, penutupan operasi pabrik pupuk PT AAF akan mengganggu kondisi perekonomian provinsi di ujung barat Indonesia itu. Pendapatan dari PT AAF untuk pemerintah pusat dan daerah juga terancam hilang jika pabrik ini ditutup. Padahal masyarakat Aceh membutuhkan industri pupuk yang kuat untuk pemulihan ekonomi yang rusak akibat konflik berkepanjangan," jelasnya kepada Media, kemarin. Selama ini, kata Rauf, PT AAF telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi pemerintah daerah maupun masyarakat petani maupun industri UKM. "Nasib karyawan kami juga tidak jelas jika benar-benar harus ditutup," ujarnya.


# Sanggup beli #

Pemerintah, kata Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), sebelum memutuskan penutupan PT AAF semestinya memastikan dulu bahwa benar-benar tidak ada lagi pasokan gas bagi bahan baku operasi AAF. Terkait dengan harga gas untuk domestik, Rauf mengungkapkan sebetulnya pihaknya sudah sanggup membayar sesuai harga yang ditawarkan operator lapangan Arun, ExxonMobil Oil Indonesia Inc (EMOI). Kesanggupan PT AAF itu telah dituangkan dalam surat Menteri BUMN kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) beberapa bulan lalu. Isinya, pihak PT AAF telah sanggup membayar harga gas senilai US$2,32/MMBTU (milion metric british thermal unit) atau lebih tinggi dari harga sebelumnya US$1,5/MMBTU. Artinya, jika pihak EMOI masih mempunyai alokasi gas yang cukup untuk AAF maka tidak ada alasan untuk tidak menyuplainya. Karena selama ini EMOI sulit menyuplai AAF dengan alasan harga yang ditawarkan produsen pupuk di bawah harga pasar. "Dana pembelian gas itu berasal dari hasil keuntungan operasi PT AAF tahun 2002 sebesar US$22 juta. Meski sepanjang 2003-2004 ini kita nyaris tidak beroperasi sama sekali," tegas Rauf.(Tua/Wis/E-3)