Pasokan Gas Exxon ke PIM tanpa Kontrak *Akhir Tahun 2004 AAF Tutup

BANDA ACEH – (Serambi Indonesia, 13 Sep’ 04) - Pasokan gas ExxonMobile ke PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) sejak tahun 2004 dilaksanakan tanpa penandatanganan kontrak antara pemerintah, Exxon dan PT PIM. Sedangkan PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) diperkirakan akan tutup pada akhir tahun ini, jika pasokan gas dari ExxonMobile tetap tidak ada. Demikian dijelaskan Direktur Utama PT PIM, Hidayat Nyak Man di sela-sela peringatan HUT Fakultas Ekonomi Unsyiah ke 45 di Banda Aceh, Sabtu (11/9).

Menurut dia, pasokan gas yang disalurkan Exxon ke PT PIM tidak hanya digunakan sendiri, tapi sebagian untuk PT AAF. Artinya, PT AAF memiliki berbagai peralatan pabrik yang harus diihidupkan agar tidak mati total dan pabrik PIM II juga harus dihidupkan. Oleh karenanya, kapasitas produksi pabrik PIM I menjadi 80 persen, dari 1.700 ton/hari menjadi 1.000/ton hari. Walaupun demikian, kebutuhan pupuk urea untuk wilayah NAD dan Sumut sebanyak 25 ribu ton/bulan tetap dapat dipenuhi dari kapasitas produksi 32-37 ribu/ton bulan.

"Yang paling penting, pasokan gas tetap lancar, agar kebutuhan pupuk urea tetap dapat terpenuhi," katanya. Sebenarnya, katanya, pemerintah telah berupaya maksimal agar sejumlah pabrik pupuk di NAD tetap terus berproduksi. Hal ini dapat dilihat dari lima kali sidang kabinet pemerintah di Jakarta dalam tahun ini, walau belum membuahkan hasil maksimal. Bahkan, pemerintah merencanakan untuk menjadwal kembali (rescheduting) penjualan gas ke Jepang. Namun, pemerintah Jepang tidak menyetujuinya, kecuali adanya swap penggantian sumber LNG yang akan diekspor dari Exxon ke Bontang, Kalimantan Timur.

Di sisi lain, jelasnya, tidak akan dapat serta merta dilakukan swap secara penuh. Sebab, sebelum dilakukan swap, infrastruktur harus dipersiapkan terlebih dahulu untuk meningkatkan pasokan gas. Meskipun cadangan gas cukup, harus dibangun sumur untuk mengangkat gas tersebut. Exxon sendiri, lanjut Hidayat, tidak mau menandatangani kontrak baru dengan PT PIM dengan dalih cadangan gas sudah menipis. Sehingga, dikhawatirkan tidak akan mampu memenuhi permintaan gas dari Jepang sesuai kontrak kerja yang telah ditandatangani. Ironisnya, sebutnya, pemerintah akan sibuk jika terjadi kekurangan pasokan gas ke Jepang seperti untuk kebutuhan listrik. Di laih pihak, kebutuhan listrik bagi 10 kecamatan di lingkungan pabrik, pemerintah tidak mau tahu. Suatu hal yang sangat bertolak belakang, ujarnya.

Diharapkan, pemerintah baru yang akan terbentuk nantinya akan berpihak kepada industri nasional, bukan kepada kepentingan industri luar negeri seperti Jepang, katanya. "Hidupnya industri nasional akan memberi dampak yang luar biasa bagi investasi jangka panjang dalam negeri." jelas Hidayat. Ribuan tenaga kerja tertampung, community development juga dapat terus berjalan. Sedangkan yang terjadi saat ini, hanya investasi sesaat. Dalam artian, uang memang langsung masuk ke kas negara. Tapi, setelah itu, bagaimana nasib masyarakat dan ribuan pekerja, tanyanya. Padahal, jelasnya, PT PIM yang mendapat pasokan gas dengan harga dibawah harga iual internasional, 1,8 dolar AS per juta metrik british thermal units (MMBtu) juga dapat memberi konstribusi ke kas negara hampir sama. Hat ini dapat dilihat dari retribusi pajak dan keuntungan perusahaan serta daya tampung tenaga kerja, bahkan community development. "Kami sudah melakukan perhitungan," katanya.

Sementara, Hidayat mengatakan pihaknya akan memindahkan produksi pupuk dari pabrik PIM I ke PIM II pada akhir tahun ini, jika pasokan gas tetap untuk 1 pabrik. Karena teknologinya lebih baru dan lebih efisien. Perbandingannya dapat dilihat dari kebutuhan produksi 1 ton pupuk. Pada PIM I, dibutuhkan 37 MMBtu, sedangkan PIM II hanya 25-26 MMBtu. Jadi, sangat jauh berbeda.

Pada bagian yang sama, Hidayat juga menyatakan pihaknya tetah melakukan efisiensi besar-besaran dalam menjaga kelangsungan perusahaan. Sejumlah biaya yang tidak diperlukan, langsung dipangkas. "Alhamdulillah, kami masih bisa survive," ujarnya. Karena, menurutnya, cash flow keuangan PT PIM tida sebaik PT AAF. Untuk saat ini, kemampuan cash flow PT PIM hanya mampu bertahan dua bulan. Makanya, kalau sempat pasokan gas tidak lagi di masa mendatang, PIM hanya mampu survive dalam masa tersebut, setelah itu tidak ada hal lain yang bisa diperbuat. Hal ini berbeda dengan PT AAF, dimana sudah tidak berproduksi lagi sejak akhir tahun lalu, tapi masih bisa bertahan sampai saat ini. Tapi, menurut dia, hampir sebagian besar karyawan PT AAF sudah dirumahkan. Bahkan, dengan dana cadangan yang semakin menipis, diperkirakan pada akhir tahun ini, PT AAF akan benar-benar tutup dan tidak berproduksi lagi. Makanya, hal ini diharapkan tidak akan terjadi pada PT PIM yang memproduksi pupuk untuk kebutuhan dalam negeri, demikian Direktur Uatma PT PIM ( r ).