Pasok Pabrik Pupuk, Ekspor Gas Sulit

JAKARTA (Media, 31-08-04): Pemerintah memastikan tetap memasok gas bagi industri pupuk dalam negeri, meski konsekuensinya Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (BP) Migas harus mencari pengganti gas alam cair (LNG) untuk kebutuhan ekspor sebanyak 54 kargo hingga 2007.

"Pada 2005-2007 Indonesia masih mengalami kesulitan memenuhi kontrak ekspor LNG dari ladang ExxonMobil Oil Indonesia Inc (EMOI) Arun, Aceh, sebanyak 54 kargo (1 kargo = 125 metrik ton)," ungkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Meski demikian, bila kontrak bagi hasil dengan kontraktor migas ConocoPhillips untuk pengembangan blok migas A di Lhok Seumawe, Aceh, dapat diteken tahun ini, maka sejak 2008-2020 akan ada tambahan gas setara 10 kargo LNG lagi untuk industri pupuk di Aceh. Dengan upaya tersebut pun Indonesia masih mengalami kekurangan volume LNG sebanyak 9 kargo pada 2005 dan 16 kargo pada tahun 2006 dan 2007. "Untuk tahun ini kontrak LNG dari Arun sudah aman karena hanya menjadwalkan ulang pengirimannya saja. Selain kita membeli satu kargo dari Oman," ujar Purnomo.

Lebih jauh untuk menuntaskan gangguan pasokan gas ke industri pupuk, Purnomo mengungkapkan, pemerintah akan memprioritaskan pengiriman ke PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) I sampai akhir tahun ini. Setelah itu, pabrik PIM II dan PT ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) akan dikembangkan sebagai prioritas berikutnya. Pemenuhan pasok gas alam ke pabrik pupuk di Aceh tersebut dilakukan dengan mengalihkan (swap) kontrak ekspor LNG dari Arun, Aceh ke kilang LNG Bontang, Kalimantan Timur. "Tentu pengalihan ini harus memikirkan value retention bagi kontraktor LNG, karena ada selisih harga antara ekspor dan dalam negeri," ujar Purnomo.

Upaya lain adalah dengan menegosiasikan kembali jadwal pengiriman LNG dengan para pembeli di Jepang atau Korea Selatan. Kemudian, PT Pupuk Kaltim (PKT) juga diminta menurunkan produksinya sehingga ada alokasi gas untuk ekspor. Seperti diberitakan sebelumnya, sejak dua tahun terakhir pasokan gas ke pabrik pupuk di Aceh tersendat akibat makin menurunnya cadangan gas alam di ladang Arun milik EMOI.


# Kontrak LNG ke Korea #

Pada kesempatan terpisah, Kepala BP Migas Rachmat Sudibjo mengungkapkan, kontraktor migas asal Inggris, BP Indonesia, hari ini akan menandatangani kontrak jual beli gas alam cair (LNG) dengan perusahaan pembangkit listrik Korea Selatan, K Power. BP akan mewakili Indonesia untuk memasok LNG sebanyak 600.000 ton/tahun, mulai pertengahan 2005 selama 20 tahun ke K Power dari lapangan gas Tangguh, Papua.

Untuk tahap awal, BP Migas meminta kilang LNG Bontang untuk memasok kebutuhan K Power dari sejumlah lapangan gas milik KPS di Kalimantan Timur. Upaya tersebut dilakukan, karena lapangan Tangguh milik BP Indonesia baru akan berproduksi sekitar tahun 2007-2008. Artinya, Bontang akan memberikan bridging ekspor LNG terlebih dulu. Sebelumnya, BP Indonesia juga telah menandatangani kontrak penjualan gas ke perusahaan Korea, Posco, sebesar 550.000 ton/tahun mulai tahun 2005 nanti. (Wis/E-6