Besok PIM Beroperasi

KRUENG GEUKUEH - Serambi Indonesia, Sabtu (27/3) besok PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) mulai beroperasi kembali setelah hampir tiga bulan "istirahat" menyusul terputusnya pasokan bahan baku gas dari ExxonMobil. ExxonMobil menghentikan pasukan gas pada awal Januari 2004.

Dengan beroperasinya kembali pabrik pupuk itu, diperkirakan sekitar 1.200 orang staf dan karyawan bisa bekerja secara penuh. Sedangkan yang lainnya akan diangsur secara bertahap sesuai kebutuhan perusahaan. "Dirut PT PIM-I Ir Hidayat Nyakman menyampaikan kabar gembira itu dari Jakarta melalui telepon kepada stafnya pada pukul 15.00 WIB, Kamis. Hidayat meminta untuk mempersiapkan semua bidang di perusahaan agar pada produksi perdana nanti tidak terjadi kendala," kata Kabag Penerangan dan Publikasi PT PIM, Sulaiman Porang, kepada Serambi, Kamis petang.

Menurut Sulaiman, Sabtu besok PIM akan memproduksikan pupuk urea untuk menutupi kebutuhan petani lokal (NAD). Diperkirakan produksi awal sekitar 850 ton/hari, sedangkan produksi dasar perusahaan tiap hari harus memproduksikan sebanyak 1.750 ton/hari. "Itu bisa dilakukan bila pabrik dalam keadaan normal tanpa hambatan gas dan kerusakan lainnya." Pabrik pupuk itu ditutup karena habisnya masa kontrak gas antara perusahaan pupuk ini dengan perusahaan penjual gas, yakni ExxonMobil.

Terhentinya pasokan gas juga membuat PT AAF dan PT KKA telah lebih dulu merumahkan ribuan karyawannya karena tidak ada pasokan gas dari perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu. Ekses dari terputusnya pengiriman gas ke PT PIM, membuat petani Aceh Utara, Aceh Timur dan beberapa kabupaten lainnya mengalami krisis pupuk urea. Pasca terhentinya PT PIM memproduksi pupuk awal Januari lalu, harga urea menjadi mahal, mencapai Rp 90.000/ sak (50 kg). Padahal sebelumnya, urea dijual di pasaran berbagai kecamatan hanya Rp 55.000/zak.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Ir Zainal Bahri, Kamis, menyatakan rasa gembira dengan kembali beraktivitasnya PT PIM. Sebab, katanya, selama ini petani di bawah pembinaan Dinas Pertanian amat menderita akibat kelangkaan pupuk, misalnya di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktia dan Langkahan. "Saat ini mereka membutuhkan pupuk urea, namun dengan terjadinya penghentian pasokan gas dari ExxonMobil membuat petani harus beli pupuk dengan harga cukup tinggi," katanya.(ib)