Industri Pupuk di Aceh Minta Tambahan Gas

TEMPO Interaktif, Jakarta, 15 Jan 04: Aceh meminta tambahan pasokan gas alam cair (LNG) untuk industri pupuk, kendati pemerintah telah mensuplai 75 juta kaki kubik (mmscfd). Alasannya, suplai yang diberikan pemerintah itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gas tiga industri pupuk di sana, yaitu Pupuk Iskandar Muda (PIM)-1, PIM-2, dan ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) yang kebutuhannya mencapai 150 juta kaki kubik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro, di Jakarta, Kamis (15/1), mengaku telah menerima permohonan resmi mengenai permintaan tambahan pasokan gas tersebut. Ia berjanji, pemerintah akan membantu mencarikan gas dari luar negeri. Namun, menurut dia, mencari gas di pasar spot luar negeri bukan hal yang mudah. "Masalahnya apakah kita bisa mendapatkan gas dalam waktu cepat," ujarnya. Kalaupun bisa mendapatkannya, kemungkinan besar harganya mahal. Karena itu, Departemen Energi harus membicarakan masalah tersebut dengan Departemen Keuangan. Ini berkaitan dengan ketersediaan dana untuk membeli LNG dari luar negeri itu.

Seperti diberitakan, sidang kabinet telah memutuskan untuk meminta ExxonMobil mensuplai gas bagi industri pupuk di Aceh sebesar 73-75 mmscfd. Suplai gas ke Aceh sempat terganggu karena menurunnya produksi gas dari lapangan Arun, di Aceh, yang dikelola oleh ExxonMobil oil. ExxonMobil mengutamakan gas yang ada untuk ekspor, demi memnuhi kontrak yang telah ditandatangani. Akibatnya, industri pupuk di Aceh terpaksa menghentikan produksinya. Dengan alasan untuk menyelamatkan industri nasional agar tidak terjadi pemutusna hubungan kerja dan pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat, pemerintah memutuskan untuk tetap memasok gas ke Aceh.

Departemen Energi menyerahkan mekanisme pendistribusian gas sebesar 75 mmscfd itu kepada Departemen Perindustrian untuk dialokasikan ke PIM dan AAS. Purnomo mengaku, suplai tersebut memang tidak cukup untuk memenuhi 100 persen kebutuhan gas bagi industri pupuk. Pemerintah berjanji akan membantu menyelesaikannya, dengan mencari sekitar 5-8 kargo gas lagi. Pemerintah akan menggunakan pendekatan business to business (B to B) untuk mencari LNG tersebut. Namun, ia belum bisa memastikan, kapan pemenuhan kebutuhan secara total bisa diselesaikan.

Sebelumnya, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), Rachmat Soedibyo mengatakan bahwa pihaknya tengah berupaya mencari LNG ke negara-negara produsen, misalnya Qatar dan Nigeria. Namun, sejauh ini belum ada kepastian atas negosiasi tersebut. BP Migas juga berusaha mencari LNG ke pasar spot. Hingga kini hasilnya juga belum ada. Retno Sulistyowati - Tempo News Room