Tahun 2004 PT. PIM Akan Hadapi Kerugian Besar

LHOKSEUMAWE (Waspada), 02 Jan 2004. Selama pasokan gas dari ExxonMobil ke PT. Pupuk Iskandar Muda (PIM) terbatas, diperkirakan tahun 2004 perusahaan pupuk tersebut akan mengalami kerugian besar. Bahkan terpaksa dihentikan operasinya, sehingga dikhawatirkan akan berdampak terhadap tenaga kerja yang harus diberhentikan. Demikian diungkapkan Dirut PT. PIM, Ir.H.Hidayat Nyakman, MSE, MA, Rabu (31/12) pagi, pada acara peusijuek selesainya konstruksi Pabrik PIM-2 dan Start Up Ammonia dan Urea Granule oleh Gubernur Provinsi Nanggro Aceh Darussalam (NAD), Ir. H. Abdullah Puteh, M.Si.

Dikatakannya, mulai Rabu (31/12) pabrik PIM-1 telah dihentikan operasinya sehingga hanya pabrik PIM-2 yang masih dapat beroperasi karena masih adanya pasokan gas untuk tahun 2004 ke pabrik baru PT. PIM tersebut. Sementara pasokan gas untuk pabrik PIM-2, hanya akan dilakukan secara interuptable (dapat dihentikan) yang berarti bisa saja dihentikan kapan saja sesuai keinginan pasok gas tersebut. "Mulai besok PT.PIM hanya mendapat suplay gas sebanyak 7 MMSCFD (Million Metric Standart Cubic Feet per Day)," kata Hidayat Nyakman. Sedangkan yang kita butuhkan mencapai 50 MMSCFD. Sehingga 7 MMSCFD itu hanya dapat kita gunakan untuk star up PIM-2 dan mudah-mudahan akan naik sekitar 35 MMSCFD lagi, tambahnya.

Lebih jauh dirut perusahan pupuk yang didirikan Februari 1982 tersebut mengakui, sesuai hasil pembicaraan dengan PT Migas, pabrik PIM-2 juga akan diberhentikan operasinya dalam waktu dekat ini. Jadi setelah PT.PIM menghentikan kedua pabriknya, menurut Hidayat Nyakman, memasuki bulan April tidak ada lagi pabrik yang beroperasi di Aceh Utara kecuali hanya PT. Arun. Menyikapi kondisi itu, Hidayat berharap, penghentian pemasokan gas untuk PT.PIM ditunda sampai bulan Maret dan April. Karena bila penghentian pasokan gas yang mengakibatkan tidak beroperasinya pabrik dimulai bulan Januari, akan menyebabkan PT. PIM mengalami kerugian mencapai US$ 150 ribu dalam setiap harinya. "Belum lagi, tagihan bunga yang harus dibayar kepada Negara Jepang dan pinjaman dalam negeri yang mencapai US$ 3 juta ditambah lagi dengan pembayaran gaji karyawan," aku dirut PT.PIM sembari menambahkan, jumlah kerugian tahun 2004 diprediksikan mencapai 300 miliar rupiah. Itu pun kalau hanya satu pabrik yang dimatikan selama 10 bulan.

Sementara itu gubernur NAD yang didampingi Bupati Aceh Utara, Ir. Tarmizi A Karim, M.Sc dalam jumpa pers usai acara peusijuk mengakui, Pemerintah tingkat-I dan tingkat-II bersama Pangdam Iskandar Muda selaku PDMD, Mayjend TNI Endang Suwarya, akan berusaha habis-habisan meminta kebijakan pemerintah pusat agar memenuhi kebutuhan gas tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi 40 persen angka pengangguran di Aceh, tambah Abdullah Puteh. "Masalah pasokan gas merupakan kebijakan pemerintah pusat, kita hanya meminta pemerintah pusat memenuhi kebutuhan gas," aku gubernur kepada para wartawan dari media cetak dan elektronik.

Sampai saat ini semua pihak masih membicarakan masalah gas dengan Pertamina dan Deperindag. Kita juga memaklumi kebijakan pemerintah pusat mengenai kontrak ekspor gas Aceh ke negara Jepang dan Korea Selatan, tambah Ir. Abdullah Puteh, M.Sc. Pengantongan Terakhir Pengantongan terakhir hasil produksi PT. PIM tahun 2003 dilakukan oleh Bupati Aceh Utara, Ir. Tarmizi A Karim,M.Sc, Ketua DPRD Aceh Utara, Tgk. Saifuddin Ilyas, Anggota DPR-RI asal Aceh Farhan Hamid serta Dirut PIM, Ir. Hidayat Nyakman. Kinerja PT.PIM sepanjang tahun 2003 tercatat Urea mencapai 491.016 ton, dan Amonia tercatat 317.153 ton. Sedangkan tahun 2002 Urea mencapai 586.034 ton dan Amonia 358.616 ton. Dengan demikian produksi PT.PIM pada tahun 2003 ini mengalami penurunan, hal itu disebabkan terbatasnya pasokan gas sebagai bahan baku pupuk dari ExxonMobil ke perusahan tersebut. Sementara itu pemasaran hasil produksi yang dilakukan PT. PIM selama tahun 2003, Urea telah dipasarkan sebanyak 491.646 masing-masing untuk pasar dalam negeri 414,028 ton dan pasar luar negeri 77.618 ton. Amonia sebanyak 24.581 ton masing-masing, pasar dalam negeri 1.193 ton dan luar negeri 23.388. Pada tahun 2002, total pemasaran Urea sebanyak 582.050 ton, masing-masing pasar dalam negeri 378.156 ton dan luar negeri 203.894 ton. Pemasaran Amonia untuk tahun 2002 mencapai 10.262 ton masing-masing pasar dalam negeri 1.130 ton sedangkan pasar luar negeri 9.132 ton. Dengan dekian berarti pada tahun 2003 kinerja pemasaran Urea mengalami penurunan sedang Amonia meningkat dibandingkan tahun lalu. (cdin/b09/b14) (sn)